[Fanfic] My Life

Title: [Fanfic] My Life

Author: Lee Minyoung

Genre: Hurt/Comfort, Romance, A little bit of Humor (maybe?)

Rating: General

Length: OneShot

Cast:

– Cho Kyuhyun

– Choi Sooyoung

– Seo Joohyun

A/N: Ne, annyeong. Aku sudah bikin covernya. Jelekkah? Yah, dimaklumi. Masih amatiran. Ah, sudah aku putuskan nggak mau banyak-banyak chapter. OneShot saja. Habisnya aku masih punya proyek lain. So, Happy Read!!

———————————————————————————————————

Aku adalah, seorang gadis remaja berumur 17 tahun. Dan kalian tentu saja dapat menebak aku berada di jenjang sekolah apa sekarang. SMA Hikari, sekolahku. Sekolah yang telah kudiami sejak tahun 2011. Jangan tanyakan padaku kenapa sekolah ini terdengar seperti Jepang, padahal didirikan di Korea. Karena aku tak pernah –dan tak ingin- tahu, seluk-beluk sekolahku ini. Anehnya, tata tertib di sekolah ini nyaris sama dengan tata bertib di sekolah-sekolah Jepang.

SMA Hikari adalah SMA biasa –menurutku-. Namun berisi orang-orang luar biasa. Orang-orang yang bisa membuatku termotivasi untuk menjadi lebih baik dari mereka. Jangan dihitung yang menyimpang dari ajaran. Semua siswa dan siswi disini baik dan ramah –ada juga yang nakal. Hanya saja yang membedakan mereka itu, status keluarga, kepintaran, kepopuleran, dan tampang. Tapi, semua itu bagaikan bumbu dapur untuk SMA Hikari. Tak akan lengkap, tanpa kehadiran semua unsur-unsur itu.

“Sooyoung-ah! Udah datang? Tumben, biasanya hampir telat.” Ucap seseorang. Aku meliriknya. Ah- Eonnieku.

Eonnie, selamat pagi. Tak harus selamanya kan aku datang hampir telat. Hidup itu harus berubah.” Balasku tenang.

Arraseo. Hei, kamu sudah dikerjakan belum PR Bahasa Inggrisnya?” aku mengangguk mendengar ucapan Sunny eonnie.

“Ah, Geureomyo. Ini kan mudah bagimu.” Terang Sunny eonnie. Aku menoleh ke arahnya yang sedang mengobrak-abrik tasnya.

“Jangan berlebihan. Masih ada yang lebih jago dan pintar dariku.” Sunny eonnie tersenyum mendengar ucapanku barusan. Dia lalu memegang puncak kepalaku.

Mwol?” tanyaku. Dia tersenyum –lagi-, aku mengerutkan dahi. “Kau sudah beranjak dewasa, ya?” tuturnya. Tangannya tak lagi ada di puncak kepalaku.

“Apa maksudmu? Tentu saja!” aku cemberut, dia tertawa.

“Iya deh. Oh iya, nih.” Ucapnya yang lalu menyodorkan tumpukan kertas. Ah, ternyata ini yang dia cari ditasnya tadi. “Cerpenku. Semoga suka!” aku mengambil cerpennya dan tersenyum.

Ne, gomawo.” Balasku singkat.

Lee Sunkyu atau yang lebih sering di panggil Sunny, orang yang sudah kuanggap kakak. Orang yang menjadi tempat curhatku. Orang yang bisa memberiku banyak saran. Orang yang paling dekat denganku seantero kelas XI IPA-1 ini.

Tak lama kemudian, hiruk-pikuk kelasku mulai terasa. Ada segerombolan siswa yang berbicara dan berdiskusi entah apa. Ada 2 kelompok siswi yang dapat kupastikan sedang bergossip ria. Ada adikku yang baru datang dan langsung-

Eh? Adikku? (Adik disini ialah Seohyun eonnie. Di cerita ini, Soo udah nganggep Seo itu, adiknya.)

“SOOYOUNG EONNIE! SUDAH DATANG RUPANYA! TUMBEN! ADA APA NIH?” serunya liar. Aku buru-buru bangkit dan menyumpal mulutnya, sebelum ada kejadian di luar keinginanku.

“Jangan teriak-teriak, Seo-ah. Aku pasti denger kok kalo kamu ngomong pelan-pelan.” Ucapku risih. Risih karena tingkahnya yang kurasa tak pernah dewasa.

“@#$%^&*@#$%^&*@#%#$%^&*.”omelnya.

“Ha? Apa?” tanyaku tak mengerti. Sedetik kemudian lampu di otakku menyala. “Ah, iya. Mianhae.” Pintaku.

“Ishhhhhh, aku bisa kehabisan nafas tahu!!!” aku mengangguk.

“Eih, dwaesseoyo… YOONGGGG EONNIEEEE, CERITAIN YANG KEMAREN! ITU HUTANGMU KAN?” ucapnya yang kembali liar. Aku menghela nafas. Yoona yang mendengar teriakan adikku, menggetok kepala anak itu. “Berisik!” omel Yoona. Adikku meringis.

“Hah, anak itu.” Gumamku.

“Pagi semua!!!!!” sapa seseorang yang rupanya baru datang. Aku tertegun. Suara ini-

“Hei! Soo!”, sapanya padaku.

“Hm, hei juga, Kyu.” Balasku pada Kyuhyun yang menyapa.

“Eh, PRku belum nih. Ntar istirahat, ajarin ya?” pintanya memelas.

“Ha? Belum? Kamu ngapain aja tadi malam?” tuturku. Belum? Dia kan anak yang bisa dibilang rajin.

“Ehehehehe…” dia nyengir.

BI-MIL.” Ucapnya yang membuatku kaget.

“Terserah deh.” Balasku singkat. Aku lalu berjalan menuju bangkuku dan Sunny.

“Oii, ajarin aku ya!!” pintanya –lagi-. “Eo.” Tuturku.

Cho Kyuhyun, teman sekelasku. Sekaligus tetanggaku. Teman yang mulai memberiku sensasi berdebar ketika aku berada di dekatnya. Teman yang aku anggap sebagai orang spesial.

Anaknya manis –kuakui-, EasyGoing, ramah, baik, dan lumayan pintar. Aku dan Kyuhyun senang belajar bersama. Jika aku lemah di Matematika, dia lemah di Bahasa Inggris. Dan kami pasti akan saling menjelaskan satu sama lain, jika ada salah satu di antara kami yang tidak mengerti. Dia mengajariku Matematika, aku mengajarinya Bahasa Inggris.

Aku kembali duduk di bangku tercinta, dan menghela napas. Sunny menyikut lenganku.

“Cieee, yang tadi ngobrol sama Kyuhyun.” Bisiknya. Atau lebih tepat godanya?

Eonnie juga pernah ngobrol sama dia, kan?” balasku tenang.

“Yeee, tapi kalo Kyuhyun ngobrol sama aku kan kasusnya beda.” Ucapnya sambil tersenyum ke arahku.

“Ya, terserah.” Aku hanya bisa memalingkan muka. Aku muak mendengar godaanya. Hah, kenapa aku baru merasa menyesal sudah menceritakan perasaanku pada Kyuhyun kepadanya? Ck, penyesalan selalu datang belakangan.

><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><>< 

Istirahat, akhirnya saat yang aku –dan semua siswa- tunggu datang. Saatnya melepas penat dari pelajaran yang telah berlangsung selama 4 jam.

Aku menuju kantin, dan membeli 2 bungkus roti isi mentega kesukaanku. Aku lalu membeli minuman Frestea rasa mint. Aku mengambil tempat di pojok, dan mulai melahap makananku. Semuanya berjalan lancar, damai dan tentram. Hingga aku mendengar seseorang memanggil namaku.

“Oii, Sooyoung-ah!!!!!” serunya lantang.

Aku menoleh dan mendapati Kyuhyun sedang berlari kearah ku sambil membawa sebuah buku. Buku?

Ah, benar. Dia memintaku mengajarinya Bahasa Inggris. Aku menghela napas. Debaran jantungku mulai tak beraturan. Sial! Jangan datang di saat seperti ini!

Aku memalingkan muka guna menormalkan kembali jantungku dan pipiku yang mulai memanas.

1…

2…

3…

Aku berhitung dalam hati. ‘Ayolah! Kembali normal!’ batinku memohon. Oke, Sooyoung. Tenang, semua akan baik-baik saja. Bersikap normal saja dihadapannya.

“Heiii, Kyu!!! Sini!!” ucapku lantang sambil tersenyum. Kyuhyun membalas senyumku.

“Curang nihh. Aku ditinggal.” Ucapnya pura-pura ngambek. Aku tertawa.

“Hei! Jangan ngambek! Tambah jelek loh!” candaku. Dia menghadiahiku sebuah pukulan di lengan.

BUGH.

“Aw! Apaan sih? Aku kan bercanda! Appoya!” aku melihatnya tertawa lepas. Sebenarnya nggak sakit sih pukulannya. Tapi, hei! Kami sedang bercanda kan?

“Bohong! Seumur-umur aku nggak pernah kasar sama cewek, terutama kamu!” ucapnya yang lalu kembali tertawa. Aku tersenyum kecil melihatnya. Yah, Kyuhyun tak pernah bermain kasar pada seorang gadis. Apalagi aku. Di jamin nggak deh. Iyalah dia takut, wong aku ancem nggak bakal ngajarin dia Bahasa Inggris lagi. Tentu saja dia menciut.

“Eh! Ada satu roti nganggur. Kumakan ya?” ucapnya. Dengan sigap aku mengambil rotiku.

“Eits! Naekoya! Beli gih!” larangku. Dia memelas.

“Ayolahhh, Soo. Buat aku aja ya? Plissss!” pintanya sambil mengatupkan dua telapak tangannya.

Wani piro?” ucapku yang membuatnya melotot. Aku terkekeh.

“Pelit bener sih! Ayolah, Soo! Sooyoung baik deh…” rayunya. Aku memutar mata. Dasar.

“Iya deh. Ambil gih. Lagian aku kasihan ke kamu yang mukanya udah hampir sama kayak anak anjing nggak dikasih makan. Tapi, ntar ganti ya?” Candaku lagi. Dia tertawa.

Arraseo. Gomawoyo!” tuturnya. Aku mengangguk. Kyuhyun membuka bungkus plastik rotiku –atau rotinya, karena sudah diambil, paksa. Ia lalu memakan roti itu dengan lahap. Benar-benar lahap.

“O-oy! Pelan-pelan makannya! Keselek loh!” nasihatku.  Benar saja, dia langsung tersedak. Buru-buru aku memberinya minumanku.

Jantungku kembali berpacu cepat, ketika tangannya tak sengaja menyentuh tanganku. Pipiku memanas.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” batuk Kyuhyun. Aku menghampirinya dan menepuk-nepuk punggungnya –lembut.

“Sudah baikan?” tanyaku. Kyuhyun menoleh cepat ke arahku.

“Jangan ngajak bicara orang makan, dong!” omelnya. Aku tersenyum simpul.

“Ehehehe, piss! Eotte? Makannya udah?” aku melihatnya mengangguk sebagai balasan dari pertanyaanku.

“Okee! Kita mulai belajarnya!” seruku ceria. Kyuhyun hanya tertawa melihat tingkahku.

><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><

Waktu berjalan terus. Dan perasaanku pada Kyuhyun, tetap sama. Kyuhyun juga tetap menganggapku adiknya yang berharga. Agak kecewa sih, tapi mau bagaimana lagi? Kyuhyunnya keburu suka sama Seohyun –teman kelasku yang sudah ku anggap sebagai adik. Sakit sih, apalagi Seohyun menunjukkanku SMS Kyuhyun padanya yang berisi kalimat bermakna bahwa Kyuhyun menyukai Seohyun. Aku berusaha tersenyum saat itu.

Sayangnya, rasa suka Kyuhyun pada Seohyun sama persis dengan rasa sukaku pada Kyuhyun. Bertepuk sebelah tangan. Karena pada saat itu, Seohyunsudah ada yang punya.

Sedih? Memang. Tapi, aku berusaha tegar. Saat ini aku merasa seperti Hyuuga Hinata yang mengharapkan Uzumaki Naruto yang mengharapkan Haruno Sakura yang sudah punya pacar. Lebay? Biarkan saja. Itu faktanya.

Dari hari, berubah menjadi bulan. Dan bulan ini aku akan menjalani ulangan kenaikan kelas. Aku berusaha fokus di Matematika. Tapi, tetap tidak bisa. Ada yang mengganjal di sini, di hati. Apakah karena Kyuhyun?

Aku melangkahkan kakiku ke arah perpustakaan, guna mencari  buku KKPK atau PINK BERRY edisi terbaru. Aku aneh ya? Sudah mau ulangan kok masih baca cerita. Tapi, aku rasa aku bisa menghilangkan galau jika membaca buku ini.

Aku menanyakannya pada penjaga perpustakaan. Dia bilang ada di sebelah kanan. Aku mengucapkan terima kasih dan segera mencari buku itu. Ketika aku menemukannya, aku segera mengambil semua buku itu. 3 buah buku langsung aku borong.

“Wah, semuanya diborong.” Ucap petugas perpustakaan kagum.

“Iya nih, oppa. Lagi pingin baca aja. Habisnya, semua edisi yang lama sudah aku baca semua.” Tuturku sambil tersenyum ke arah sang petugas.

“Hm. Pantas saja. Kacamatamu sampai tebal begitu. Kutu buku rupanya.” Aku tersenyum, mendengar kata-kata petugas perpustakaan.

“Nih! Kembalikan tanggal 20 Agustus ya? Jangan telat!” ancamnya. Aku mengangguk dan mohon diri.

Gamshamnida, oppa!” seruku.

Aku melangkahkan kaki menuju ke kelasku, XI IPA-1. Aku bersenandung kecil. Tapi, aku merasakan sebuah sentakan keras di tanganku. Kyuhyun? Mau apa dia?

“Hei! Ngapain sih? Lepas, Kyu!” ucapku. Kyuhyun tak bergeming dan terus menyeretku. Kyuhyun menyeretku sampai ke depan ruang Band. Aku merinding. Aku dan Sunny eonnie pernah melihat ‘sesuatu’ disini. Ngapain sih Kyuhyun? Nyeret anak orang sembarangan.

“Jujur, Soo!” Eh? Jujur katanya? Apanya yang mau dijujuri?

Mwoji?” tanyaku. Dia menunduk, menyembunyikan wajahnya dariku.

“Perasaanmu… Padaku..” lirihnya. Aku tertegun, perasaanku?

“Apa maksudnya sih, Kyu?” tanyaku –lagi.

“Aku sudah dengar dari Sunny. Kalo kamu…” Sunny? Aih, orang itu! Sudah kubilang jangan ngomong ke siapa-siapa. Nah ini, malah bilang ke orangnya langsung.

Ne, majayo. Aku suka sama kamu, Kyu.” Ucapku pelan. Kyuhyun mengangkat wajahnya.

“Se-serius?” tanya Kyuhyun tak percaya.

“Yee, katanya tadi disuruh jujur! Gimana sih?” candaku.

“Jangan bercanda sekarang, Soo!” serunya. Apa mau anak ini? Aku disuruh jujur, Fine. Aku udah jujur sama dia. Kok jadi marah-marah sih?

“Sooyoung-ah, aku..”

“Iya iya. Aku tahu, pasti mau nolak kan? Aku tahu itu, Kyu. Kamu suka sama Seohyun kan? Jujur deh.” Kataku sambil tersenyum lembut. Kyuhyun mendekat ke arahku. Aku menegang.

Kyuhyun.

Memelukku.

“He-hei!” omelku. Kyuhyun tetap diam.

Mi-mianhae, Sooyoung-ah. A-aku nggak bisa bales perasaanmu.” Ungkapnya. Aku tersenyum.

“Nggak masalah. Asal kamu udah tahu aja, udah lebih dari cukup.” Tuturku lembut.

“Aku sayang sama kamu, sebagai kakak ke adiknya. Mian.” Ucap Kyuhyun.

“Iya, aku ngerti. Kita tetep temenan kan?” Kyuhyun mengangguk, aku bisa merasakannya.

“Makasih pengertiannya, Soo.” Dia tersenyum padaku sesaat setelah dia melepaskan pelukan kami.

“Hm.” Gumamku. HUAAAA, LEGA!!!

“Tapi, Soo…” Kyuhyun mengambil tanganku yang tak aku gunakan memegang buku. “Jangan hapus perasaanmu ke aku ya? Trus, bantu aku lupain, Seohyun. Aku.. Yakin… Perasaanku padamu pasti bisa berubah seiring waktu. Plissss.” Mohonnya.

Aku terkejut. Dia memintaku untuk membantunya melupakan Seohyun? Dengan cara dia mau belajar menyukaiku?

Oh, Tuhan. Perasaan apa ini?

Bahagia? Ah, mollayo.

“Oke, aku bantu.” Jawabku pada akhirnya yang membuat Kyuhyun tersenyum riang. Dasar.

“Tapi, ada syaratnya.” Senyum Kyuhyun seketika hilang ditelan Bumi. “Syarat? Nggak ikhlas banget sih bantuin oppanya.” Aku tertawa.

“Hahahaha. Syaratnya gampang kok, oppa.” Ucapanku membuat Kyuhyun oppa terkejut. Lalu sedetik kemudian, dia kembali senyum.

Mwoji?” tanyanya.

“Sini sini…” aku menyuruhnya agar mendekatkan telinganya padaku.

“GANTIKAN ROTI MENTEGAKU YANG KAU MAKAN BEBERAPA BULAN LALU!!! SAMPAI SEKARANG BELUM DIGANTI KAN?” teriakku tepat ditelinganya.

“Huuuuaaaa!!! Appo! Iya iya! Aku ganti! Nggak usah teriak di telinga juga kali!” gerutunya kesal. Aku tertawa lepas.

“Bagus!” seruku riang. “Oya, oppa. Aku balik ke kelas duluan ya? Merinding aku deket-deket ruang Band. Lagian, juga pernah liat ‘sesuatu’ di dalem situ. Dahh.” Ucapku yang lalu meninggalkan Kyuhyun oppa sendirian.

“O-OY! JANGAN TINGGALIN AKU DONG, SOOYOUNG-AH! AKU JADI TAKUT NIHH!” seru Kyuhyun yang lalu mulai menyusulku.

Aku berlari makin kencang. Aku masih bisa mendengar teriakan-teriakan Kyuhyun yang menyuruhku untuk menunggu dirinya.

“OY! TUNGGU!” Kyuhyun berseru lagi. Aku tertawa lepas. Sangat lepas.

Hingga pada akhirnya kurasakan sebuah tangan besar nan hangat menggenggam tangan mungilku. Aku yakin itu tangan milik Kyuhyun oppa.

O-oppa? Mwohaeyo?!” tanyaku gusar. Salting menyerang diriku.

Lha? Katanya mau bantuin aku ngelupain Seohyun.” Jawabnya tenang. Ia kemudian tersenyum. Senyuman paling manis yang pernah aku lihat darinya.

“Ini permulaannya, Sooyoung-ah.” Tuturnya lagi. Aku tersenyum manis.

Ne.”

-END-

“Setiap hati memiliki rasa sakit. Hanya cara mengungkapkan hal ini berbeda. Orang bodoh menyembunyikannya di mata, sedangkan orang yang brilian menyembunyikannya dalam senyum mereka.”

-Anonym

Ketika orang-orang bisa berjalan menjauh dari Anda, biarkan mereka berjalan. Nasib Anda tidak pernah terikat pada siapa pun yang pergi.”

-Anonym

A/N: RCL?? Tolong hargai karyaku ya, walopun jelek begini. Semua bentuk comment diterima. Tapi, kalo ada yang commentnya tak pantas di publish. Nggak akan aku publish. Gomawoo 🙂

Advertisements

24 thoughts on “[Fanfic] My Life

  1. kyuusoo says:

    bikin sekuelnya donk, pengen tau apa kyuppa bisa lupa sama seobaby dan nerima soo eonnie sepenuh hati, hehehe
    nice story 🙂

  2. aduh… sbnrnya kasian sih sama soo krn cintanya masih bertepuk sebelah tangan. tp gak apa2 deh krn akhirnya kyu minta tolong soo buat lupain seo dgn cinta dr soo XD

  3. anita(sparkyuyoungster) says:

    wahhh joha

    keren setengah mampus tapi miris kyuppa maalah suka ama seo

    tapi akhirnya sama syounni

    seqnya yah eonni
    gumawo

  4. 규영 shipper says:

    Bagus thor
    Tp kurang dpt feelnya, soalnya msh pake bahasa yg terlalu nyante, jd ga dpt feel klo yg lagi meranin itu orang korea.
    Gitu aja ne

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s