Eh? Ternyata?!

Title : Eh? Ternyata?!

Author : Park Rynchan (@AnnisaHaris_)

Genre : Humor, Friendship, Romance

Rating : G

Length : OneShot

Cast :

  • Kim Myungsoo (L)
  • Park Sooyoung (Lizzy)

Support Cast :

  • Kim Sunggyu
  • Oh Hyerin (Raina)
  • Lee Howon (Hoya)
  • Im Jinah (Nana)

A/N: Adakah yang ngeship After School x Infinite? Kalo ada pasti ngeship Nana ama L. Kalo aku L ama Lizzy!! #ShipperMode. Kurasa judul dan isi FFnya nggak nyambung =3=. Maaf kalo jelek. Happy Read!

Don’t like it? Just push the back button.

—————————————————————————

Dia berjalan pelan di koridor yang penuh dengan siswa itu. Dia -atau lebih tepatnya gadis- menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap kedepan. Karena ia tahu, semua orang yang dia lewati akan mengaggapnya remeh. Dan memang benar, coba lihat saja tatapan hina dan benci dari siswa-siswa yang gadis itu lewati.

Teuchi High School, tempat ia menempa ilmu. Sekolah yang asri dan ditempati murid-murid teratas -entah itu populer ataupun pintar. Gedungnya megah. Sekolah ini memiliki beberapa bangunan. GOR, Lab. Fisika dan Biology, ruang Band, 3 gedung bertingkat untuk kelas-kelasnya, dan masih banyak lagi -kalian tak akan memaksaku untuk menceritakan semuanya, kan?

Kenapa gadis ini dikucilkan? Karena latar belakang keluarganya? Tidak. Gadis ini memiliki orang tua yang punya penghasilan di atas rata-rata. Karena dia tak pintar? Tidak, dan tak mungkin. Lihat saja semua kertas ulangannya yang bernilai ‘A’. Karena penampilan? Tidak juga, meskipun harus diakui kalau gadis ini sedikit di bawah rata-rata.

Lalu?

Itu semua karena masa lalu keluarganya. Ah, bagaimana cara menceritakannya ya? Aku pun tak tahu. Yang penting, gadis ini dijauhi karena hal itu. Sebenarnya, ada yang merasa kasihan dan ingin menjadi teman gadis itu. Namun, mereka takut akan dikucilkan juga. Manusia zaman sekarang mana ada yang mau dikucilkan hanya untuk berteman dengan orang yang terkucilkan? Hampir tak ada!

Gadis itu membuka pintu kelasnya perlahan. Kepalanya dijulurkan kedalam, melongok-longok bagaikan orang tersesat. Setelah merasa semua aman, gadis itu menghela nafas. Ya, nafas lega. Ia bersyukur tak ada yang menaruh ember berisi air -atau tepung- di atas pintu. Ia juga bersyukur tak ada yang meleparinya dengan kulit pisang -atau kotoran.

Gadis manis itu berjalan menuju tempat duduknya. Ia terus menundukkan kepala, ia tak ingin melihat tatapan remeh teman sekelasnya. Kepalanya terangkat ketika mendengar suara berdebam di depannya. Matanya melebar. Segerombolan siswi sedang menatapnya dengan amarah.

“Kau! Kau yang bernama Park Soojin?!” Seru orang didepannya. Gadis itu mengerutkan kening. “Bukan.” Jawabnya pelan.

Teman dari orang yang menggebraknya tadi berbisik pelan, seketika wajah orang yang berseru padanya memerah sedikit.

“Ehm, maksudku.. Kau! Namamu Park Sooyoung?!” Seru orang itu -lagi. Kali ini, gadis itu mengangguk. “Ya. Itu aku. Memangnya ada apa?”

“Kau! Apa yang kau lakukan pada Oppa kami, huh?!”

‘Oppa?’ Batin gadis itu. Jari telunjuknya ia letakkan di bibir, mencoba mengingat. “Maaf, aku tak mengerti maksud kalian. Oppa yang mana, ya?”

Muka segerombolan gadis yang menyerbunya terlihat menahan amarah, “Apa maksudmu?! Kau lupa? Bagaimana bisa?!!”

‘Apanya yang lupa sih?’ Gadis itu kembali mengerutkan dahi. Ia mencoba mengingat kejadian-kejadian yang berhubungan dengan gerombolan gadis di hadapannya saat ini. Namun, sebelum ingatannya kembali. Jalan pikirnya terputus oleh teriakan siswi-siswi di kelasnya -termasuk gerombolan gadis tadi.

Oppaa!!!

Ya! Bwa! Itu Myungsoo oppa!”

“Iya! Ah, keren sekali!”

“Aku suka tatanan rambutnya!!”

Cool!!”

“Kyaaah!”

Dan sebagainya. Gadis itu hanya bisa menutup telinganya yang mulai berdengung. Terkadang teriakan fangirl bisa mengalahkan toa-nya masjid. Ck, dasar manusia zaman sekarang.

Myungsoo, atau lebih tepatnya Kim Myungsoo adalah seorang siswa dari Teuchi High School. Ia berwatak dingin, namun bisa juga menjadi hangat -meski jarang terjadi. Myungsoo ini sering dijuluki sebagai ‘Ice Prince’-nya Teuchi High School. Memiliki wajah tampan, otak yang encer, dan harta yang banyak. Itulah 3 faktor yang membuat jumlah fangirl-nya membludak. Hampir cewek satu sekolah Myungsoo borong. Mulai dari hoobae-nya, sunbae-nya, sampai seongsaengnim-nya. Faktor lain yang membuat Myungsoo makin punya banyak fangirl yaitu, karena sampai sekarang pemuda ini masih belum pernah punya pacar. Keren.

Lalu, coba kalian tebak siapa yang masuk ke kelas dan menyebabkan siswi disana berteriak? Siapa lagi? Kim Myungsoo, lah.

Meski teriakan para fangirl terus bergema, Myungsoo tetap berjalan ke arah suatu meja. Sedangkan sang pemilik meja hanya berfikir, ‘Mau apa dia kesini?’

Tangan kanan Myungsoo diletakkan di meja, sedangkan sang pemilik meja hanya memiringkan kepalanya.

“Kau masuk hari ini?” Myungsoo berkata. Gadis yang dihampiri Myungsoo hanya mengangguk. “Kau tak lupa padaku, kan?”

“Eh?”

Myungsoo tersenyum kecut mendengar ekspresi gadis dihadapannya, “Jadi, kau sudah lupa?”

Gadis itu merasa bersalah. Hah, salahkan saja daya pikirnya yang belakangan ini menurun. Pada akhirnya, gadis ini kembali meletakkan jari telunjuknya di bibir -kebiasaannya jika sedang berfikir keras.

Deg 

Mata Myungsoo melebar. ‘Gadis ini..’ Tiba-tiba saja sebuah senyuman tulus yang jarang dia keluarkan muncul. Tangannya yang tadi ada di meja, Myungsoo letakkan di atas kepala sang gadis.

“Sudahlah, jangan dipaksa.”

“Ma-maaf.”

“Tak usah meminta maaf, Sooyoung.”

“Eh?” Gadis itu mendongakkan kepalanya. Bagaimana bisa pemuda ini tahu namanya? Pikir gadis itu. Ah! Ia ingat, pemuda ini. Orang yang menolongnya kemarin. Orang yang menghajar preman-preman seram itu, kan? Iya! Sooyoung yakin!

Myungsoo sudah akan berbalik dan menuju bangkunya yang jauh dari bangku milik Sooyoung. Namun, perkataan Sooyoung selanjutnya mengejutkan Myungsoo.

“Terima kasih, untuk yang kemarin.” Myungsoo hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

***

Kejadian tadi, sudah terjadi 3 bulan yang lalu. Dan hari ini, Sooyoung merasa ada yang aneh dengan gelagat Myungsoo. Bayangkan saja, saat Sooyoung berjalan menuju ke sekolah, Myungsoo menghampirinya dan mengajaknya berjalan beriringan. Lalu saat di kelas, Sooyoung merasa Myungsoo terus melirik ke arahnya.

“Hhh,” tanpa sadar Sooyoung menghela napas. Bukannya ia benci dengan perlakuan Myungsoo. Ia tahu, Myungsoo ingin mencoba menjadi temannya. Tapi, lihat-lihat keadaan juga dong. Bagaimana kalau Sooyoung di bully oleh fangirl Myungsoo. Membayangkan saja ia tak bisa.

“Ada apa?” Tahu-tahu suara Myungsoo langsung muncul. Sooyoung mendongakkan kepalanya, dan matanya langsung menatap mata Myungsoo. Sooyoung memberi Myungsoo tatapan apa-yang-kau-lakukan-disini, sedangkan Myungsoo hanya tersenyum tipis.

“Young-ah,” Sooyoung tersentak. Bukan, bukan karena Myungsoo yang tiba-tiba datang dan duduk didepannya. Itu semua karena panggilan Myungsoo untuknya. ‘Young-ah’? Bahkan orang tuanya tak pernah memanggilnya seperti itu.

“Nanti kau ada acara?” Kali ini, Sooyoung benar-benar terkejut setengah mati. Untuk apa sang ‘Ice Prince’ menanyakan jadwalnya untuk hari ini? Astaga, Kim Myungsoo memang butuh di periksa.

Setelah lama berdiam, akhirnya Sooyoung membuka suara, “Ti-tidak ada.” Jawabnya pendek. Myungsoo terlihat senang, meski wajah stoic-nya tetap ada. “Bagus.”

Sooyoung mengangkat sebelah alisnya. Pemuda faforit satu sekolah ini mulai bertingkah aneh. Sungguh! Bahkan berbicara dengannya saja bagaikan mimpi. Tapi, Sooyoung? Gadis ini beruntung karena bisa berbicara -nyaris- seharian dengan Myungsoo. Sebenarnya, mereka tak pernah berbicara sebelumnya. Namun, sejak insiden Sooyoung diselamatkan oleh Myungsoo dari preman, mereka mulai dekat dan banyak berbicara. Walaupun, yang memulai percakapan selalu Myungsoo.

“Mmm, Myungsoo-ssi,” Myungsoo mengalihkan pandangannya pada Sooyoung. Memberi tatapan ada-apa dengan matanya. “Untuk apa bertanya seperti itu?”

“Bertanya apa?”

“Yang tadi itu.”

“Yang mana?” Myungsoo mengeluarkan seringai. Pemuda ini selalu senang melihat Sooyoung bertingkah gelagapan dan gelisah. Imut dan manis, pikirnya.

“A-ah, lupakan.” Sooyoung kembali memakan bekalnya. ‘Uuh, seharusnya aku tak bertanya.’

Sebenarnya, Myungsoo sedang menahan tawa. Wajah merah Sooyoung bagaikan hiburan untuknya. Hah, andai saja Myungsoo hanya siswa biasa. Ia tak harus menjaga image seperti ini, kan?

KRING 

Sooyoung menutup bekalnya dengan tergesa. Sedangkan Myungsoo hanya menatap gadis dihadapannya dengan tatapan aneh. “Kenapa terburu-buru?”

“Kau lupa? Ini pelajaran Han seongsaengnim. Aku tak mau kena marah.”

“Han seongsaengnim? Oh, guru killer itu?”

“Ya. Kau tak mau cepat- Ah, benar juga.”

Myungsoo mengangkat alis, “Apanya yang benar?”

“Guru itu kan salah satu fans-mu. Jadi, kau telatpun tak jadi masalah. Sudah ya? Aku duluan.” Ucap Sooyoung yang lalu berlari meninggalkan Myungsoo.

Setelah beberapa detik berlalu, Myungsoo yang teringat akan sesuatu berlari mengejar Sooyoung. Belum 5 langkah keluar dari kantin, pemuda itu mendengar suara pekikan kecil dan suara air tumpah. ‘Sooyoung!’ Batin Myungsoo. Pemuda itu lalu berlari, berlari dengan sekuat tenaganya.

“Heh, terima itu! Dasar gadis penjerat!” Langkah Myungsoo terhenti, ia lalu bersembunyi di belakang tembok. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana situasi di depannya sekarang. Baju Sooyoung basah setengah mati. Gadis yang melempar air pada Sooyoung hanya tersenyum miring.

Mata Myungsoo melebar ketika dilihatnya gadis yang mengganggu Sooyoung mengeluarkan silet.

Sret

Sayatan kecil tadi mengenai pipi Sooyoung. Darah langsung keluar -meski tak terlalu banyak. Myungsoo yang melihat Sooyoung akan di lukai lagi langsung berlari ke arah gadis itu.

Sret 

“Ah!!”

“Cih.”

Kali ini Myungsoo yang terluka. Lengannya mengeluarkan darah segar. Sooyoung mengadah menatap sang penyelamat. “Myung..soo?”

Myungsoo menatap Sooyoung sekilas dan memberikan senyum tipis. Sedetik kemudian tatapannya kembali mengarah ke gadis yang telah melukai dirinya dan Sooyoung.

Oppa~, aku minta maaf.” Ucap gadis itu.

“Camkan ini! Akan kuingat wajahmu, dan awas saja kalau berani muncul lagi dihadapanku atau Sooyoung! Pergi!” Bentak Myungsoo. Gadis itu pergi dengan berurai air mata.

“Kau tak apa? Astaga, dasar gadis gila. Untuk apa membawa alat tajam ke sekolah?”

“Aku tak apa-apa.”

“Sedang apa kalian disini?! Bel sudah ma- Oh, Myungsoo!?” Sooyoung dan Myungsoo sama-sama terkejut melihat Han seongsaengnim dibelakang mereka.

“Astaga, Sooyoung? Kau kenapa? Kenapa semua basah? Ya tuhan! Pipimu, Nak! Berdarah!” Panik guru penggemar Myungsoo yang satu itu. Matanya lalu beralih ke arah Myungsoo, “Kau juga! Lenganmu berdarah? Siapa yang melakukannya?”

Myungsoo mengangkat Sooyoung dan menggendongnya, “Seongsaengnim, saya dan Sooyoung permisi. Saya akan membawanya ke UKS.” Ucapnya yang langsung mendapat persetujuan dari gurunya.

Myungsoo langsung berlari. Sooyoung hanya menatap Myungsoo dan berkata, “Terima kasih.. Lagi.” Sebelum akhirnya pingsan.

***

Myungsoo menatap lurus jalanan dihadapannya. Sore ini, ia ingin mengajak Sooyoung ke suatu tempat. Pemuda ini ingin merubah penampilan Sooyoung. Namun, parahnya gadis itu sedang sakit. Hah, ini semua gara-gara perbuatan fans gilanya.

Mobilnya berhenti di sebuah rumah minimalis bertingkat. Tidak besar, tidak kecil, tidak megah. Hanya saja terlihat sejuk dan asri. Ada taman kecil di depan rumah plus sebuah kolam kecil.

Myungsoo memencet bel rumah. Tak lama, muncul seorang wanita paruh baya. Wajahnya masih terlihat muda, hanya saja banyak kerut dimana-mana.

“Mencari siapa, anak muda?” Tanya wanita itu ramah. Myungsoo membungkukkan badan -memberi salam.

“Mm, apakah ini benar rumah Park Sooyoung?” Wanita yang tadi bertanya langsung tersenyum.

“Ya, benar. Kau temannya?”

“Um, ya. Saya ingin menjenguk Sooyoung.”

“Ah, baiklah. Silahkan masuk.” Ucap wanita tadi seraya membuka pintu lebih lebar. Bagian dalam dari rumah ini memancarkan aura ketenangan. Warna biru dan hijau yang berpadu di tembok, memberikan kesan segar dan bebas. Perabotan rumahnya banyak, namun tak memberikan kesan sempit dan berantakan. Sebuah foto yang terpampang di dinding menarik perhatian Myungsoo.

“Ah, kau tertarik pada itu?” Myungsoo tertawa kaku sambil mengusap-usap bagian belakang lehernya. “Itu karya Sooyoungie.”

“Sooyoung? Dia pintar memotret.” Puji Myungsoo tulus. Wanita paruh baya itu -yang merupakan ibu Sooyoung- mempersilahkan Myungsoo naik ke lantai atas. Dimana kamar Sooyoung berada.

Klek 

Myungsoo membuka knob pintu kamar Sooyoung. Kamar gadis ini cukup luas. Warna hijau dan pink mendominasi kamar Sooyoung. Myungsoo melihat Sooyoung sedang tidur. Wajahnya tenang. Debaran jantung Myungsoo mulai tak beraturan. Tanpa sadar ia meletakkan tangannya di dada sebelah kiri. ‘Aneh. Ada apa denganku?’

“Myungsoo..?!” Orang yang disebut namanya terperanjat. “Hai. Bagaimana keadaanmu?” Ucapnya kemudian.

“Mulai membaik. K-kau, bagaimana bisa disini? Kau menjengukku?!” Myungsoo mengangguk. Ia kemudian meletakkan keranjang buah yang dari tadi ia tenteng.

“Mau buah?”

“Apa?”

“Aku bilang, kau mau makan buah?”

“E-eh? Ya.”

“Yang mana?”

“Emm, apel?”

“Baiklah.”

Myungsoo mengupas buah Apel ditangannya dengan hati-hati. “Myungsoo-ssi,” Sooyoung memanggil.

“Jangan tambahkan ‘ssi’. Kau membuat hubungan kita seperti orang asing. Kita sudah 3 bulan saling kenal, kau tahu?” Sooyoung merasa pipinya memerah. Dengan perlahan, gadis itu menganggukan kepalanya. Sedangkan wajah Myungsoo juga mulai memerah. Mati-matian dia tetap pasang muka stoic miliknya. Ah, mulai saling suka, ya?

“Myungsoo, lukamu-”

“Aku tak apa,” Sooyoung kembali mengangguk. “Buka mulutmu.” Sooyoung hanya menatap Myungsoo aneh. Myungsoo menghela napas.

“Ayo cepat. Kau ingin buah apel, kan?”

“Aku bi-bisa makan sendiri, Myungsoo!” Ucap Sooyoung seraya mengambil sepotong apel dari piring di pangkuan Myungsoo. “Aku minta, ya?” Sooyoung mengangguk.

Mereka makan dalam diam. Hingga pada akhirnya potongan terakhir apel yang tersisa. Sooyoung memandang penuh minat (?) pada potongan itu. Myungsoo tersenyum kecil, “Ambilah.”

“Kau tak mau?”

“Aku mau. Tapi, melihatmu yang menatap potongan apel ini dengan tatapan orang yang kelaparan. Aku merasa kasihan.” Sooyoung mendengus pelan. Dengan cepat ia melahap potongan terakhir apel itu.

“Hei,”

“Apa?”

“Tadinya, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Namun, berhubung kau sakit. Jadi, ku urungkan.”

“Memangnya mau kemana?”

Bimil.” Ucap Myungsoo seraya mengeluarkan lidahnya. Sooyoung tertawa kecil. ‘Aku tak menyangka, seorang ‘Ice Prince’ juga bisa berbuat kekanakan.’ Batinnya geli.

“Tenang saja, aku pasti cepat sembuh.”

“Hm. Awas saja kalau kau tak sembuh.” Sooyoung tertawa keras mendengar respon Myungsoo. “Iya, iya.”

“Aku akan menjemputmu ketika kau sembuh. Bagaimana?” Myungsoo juga tak tahu kenapa mulutnya berkata seperti itu. Diluar dugaan Sooyoung mengangguk. “Ya. Kutunggu.”

***

“Hei, siapa dia?”

“Anak baru?”

“Cantiknya!!”

“Rambutnya keren!”

“Kulitnya! Ckckck, menakjubkan.”

“Dia nyaris sempurna, kau tahu?”

“Ya, aku setuju.”

Semua ucapan kagum dari siswa Teuchi High School menyambut kedatangan seorang siswi berambut panjang. Sedangkan sang gadis yang merasa tak nyaman dengan semua decakan kagum itu hanya membatin, ‘Awas kau Kim Myungsoo!’ 

Ketika dirinya masuk ke dalam kelas semua mata langsung menuju dirinya. Ia hanya membungkukkan badan. “A-annyeonghaseyo.” Sapanya pelan.

Ia kemudian duduk di bangku dekat jendela -bangku milik Sooyoung. Namun, segerombolan gadis mendekatinya. “Aduh, jangan duduk disitu!”

“Memangnya kenapa?” Gadis itu mengangkat alis.

“Itu tempat duduk si Gadis Penjerat, kau tahu?”

“Lalu?” Dalam hati, gadis itu sudah siap untuk meledak. Kenapa? Kenapa dia sampai dapat julukan seperti itu? Apa salahnya?

“Eh, dia itu anak seorang mantan penjabat yang melakukan korupsi. Sudah begitu, ibunya pernah ketahuan selingkuh dari ayahnya. Orang tuanya cerai dengan cara tidak baik. Sudahlah, ku sarankan kau pindah!” Salah satu gadis yang bernama Jin Yoonhee berkilah. Gadis itu menggeram pelan.

“Kalian tidak harus begitu juga, kan? Anak itu juga punya hak! Apa salahnya? Dia pernah merebut milikmu, huh?! Sampai-sampai kau mengatainya dengan sangat kasar!”

“Kenapa jadi marah sih? Kalau aku bilang anak itu pernah merebut milik kami bagaimana?!” Teman Jin Yoonhee berseru. Seluruh murid yang ada di kelas itu langsung menoleh.

“Kim Myungsoo maksud kalian?! Cih, dia bahkan tak menganggap kalian ada.”

“Apa katamu?!! Sebenarnya kau ini siapa, huh?!”

“Aku? Cih, aku adalah-”

“Berhenti disitu!” Suara Myungsoo menghentikan kata-kata gadis yang sudah akan mengakui identitasnya. “Myungsoo?” Suara lembut gadis itu kembali.

“Jangan hiraukan mereka, Sooyoung.” Ucap Myungsoo sambil melemparkan tatapan dingin pada Jin Yoonhee dan teman-temannya.

“S-SOOYOUNG??!!!!”

“Hhh, harusnya yang mengatakan identitasku yang sebenarnya itu aku,” Keluh gadis itu -Sooyoung- pada Myungsoo. “Kau ini benar-benar.”

“Biarkan saja.” Myungsoo mengangkat bahu. Ia lalu menarik tangan Sooyoung ke arah atap sekolah.

Ya! Kau gila? Kau mau mengajakku membolos?! Oh, tidak. Tidak terima kasih, Kim Myungsoo.” Sooyoung memberontak dari cengkraman tangan Myungsoo. Yah, namanya juga laki-laki. Pasti lebih kuat. Pada akhirnya, usaha Sooyoung lepas dari cengkraman Myungsoo tak membuahkan hasil.

“Park Sooyoung,” Sooyoung tak pernah sebelumnya dipanggil dengan nama lengkap oleh ‘Ice Prince’ ini. Maka dari itu, Sooyoung merasa Myungsoo sedang marah padanya.

“Baiklah, baiklah. Aku akan menemanimu disini.”

“Bukan. Bukan itu.”

“Lalu?”

“Aku dipilih menjadi trainee di sebuah Entertainment,”

Sooyoung merasa badannya lemas. Otaknya tak bisa berpikir jernih. Kenapa? Kenapa setelah ia mulai memiliki perasaan pada Myungsoo, Myungsoo harus pergi? Dunia memang tak adil. Kekecewaan terlihat jelas di mata Sooyoung, sayangnya Myungsoo tak bisa melihat. Pemuda itu hanya memalingkan wajah, bersiap untuk melanjutkan kata-katanya. Sedangkan Sooyoung memilih untuk menatap lantai atap sekolahnya.

“Jadi, sebelum aku berangkat besok. Aku ingin kau tahu kalau aku,”

Sooyoung mengangkat kepalanya. Mata Myungsoo langsung beradu pandang dengan matanya. Matanya memperlihatkan keseriusan. Jantung Sooyoung berdetak lebih cepat.

“Aku.. Menyukaimu, Park Sooyoung.” Mata Sooyoung membulat. Mulutnya terbuka sedikit. Otaknya berusaha mencerna kata-kata -atau lebih tepatnya ungkapan- Myungsoo tadi.

“Myung..soo?” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Meskipun banyak kata-kata yang ingin Sooyoung utarakan, hanya itu yang terucap.

“Aku.. Menyukaimu. Tulus. Aku menyukaimu sejak hari dimana kita kedua kalinya bertemu. Hari setelah aku menyelamatkanmu. Tadinya aku berusaha menghapus perasaan ini, Sooyoung. Tapi, tak bisa. Aku terlalu menyukaimu.”

“A-aku,”

“Tak usah dijawab. Aku hanya ingin mengutarakan ini. Terima kasih, Sooyoung. Terima kasih sudah mau hidup di hatiku yang dingin.” Myungsoo bergerak maju ke arah gadis yang masih mematung di hadapannya. Pemuda itu lantas memeluk tubuh gadis itu. Pelukannya erat, seakan mengatakan bahwa ia tak mau berpisah dengan Sooyoung. Myungsoo masih ingin bersama Sooyoung.

“S-sama.. Sama-sama, Myungsoo.” Sooyoung balas memeluk Myungsoo. Biar, biarkanlah mereka menikmati hari ini. Hanya berdua, menikmati irama jantung masing-masing. Mungkin, kalau Myungsoo dan Sooyoung bisa mengajukan 1 permintaan. Mereka akan meminta..

Biarkan hari esok tiada. Aku masih ingin bersamanya, Tuhan. Aku.. Menyukainya. 

***

“..Zy!”

“Lizzy!”

Lizzy terbangun dari lamunan panjangnya. Ia mendapati Nana -teman segrupnya- sedang berkacak pinggang.

“E-eh? Eonnie.. Ada apa?” tanya Lizzy bak orang hilang arah.

“Ya Tuhan! Anak zaman sekarang benar-benar! Apa yang kau lamunkan sih? Kita ada perform beberapa 20 menit lagi. Jadi cepat bersiap-siap!” Nana mengoceh panjang lebar. Lizzy hanya mengangguk pasrah.

Setelah Nana keluar dari ruangan itu, Lizzy menghela napas berat. ‘Aku merindukanmu.’ 

“Lizzy-ah?” Suara Raina terdengar. “Nana kenapa? Dia terlihat kesal setelah keluar dari sini.”

Lizzy tersenyum, “Mungkin dia kesal padaku.” Balasnya pendek. Raina mengangkat alis, heran.

“Memangnya kau kenapa?”

“Aku melamun, ehehehe.” Lizzy menunjukkan cengiran di akhir kata-katanya. Raina mengangguk mengerti. “Tentang dia lagi, hm?” Tanya gadis chubby itu.

“Ya.”

Raina terdengar sedang menghela napas, “Sabar ya? Kalo jodoh pasti nggak bakal kemana.”

“Ya, eonnie. Aku tahu. Ah, benar juga. Kita akan perform dengan siapa?”

“Infinite!! Boyband Hoya oppa!” Seru Nana yang tiba-tiba saja langsung masuk. Raina memberi Nana tatapan tak suka. Sedangkan member After School yang lain terlihat sibuk sendiri. Tak peduli dengan sekitarnya. Ckckck, dasar tidak peka.

“Hei hei. Nana-ya, siapa leader Infinite?” Raina bertanya dengan nada dingin. Nana yang ditanyai seperti itu hanya mengangkat alis.

“Sunggyu oppa.” Jawab Nana.

“Nah, kalau begitu Infinite adalah boyband Sunggyu oppa!”

“Tapi, disana kan juga ada Hoya oppa!”

“Sunggyu oppa leader-nya, kau tahu?!”

“Aku tahu, eonnie! Tapi,”

Aish! Infinite itu milik Entertainment-nya! Bukan milik Sunggyu atau Hoya oppa!” Lizzy menengahi pertengkaran Nana dan Raina. Nah, begini deh jadinya kalau Nana dan Raina ribut soal pacarnya masing-masing. Harus ada yang jadi penengah.

TOK 

TOK 

Seluruh isi ruangan itu sontak menoleh ke arah pintu yang baru saja diketuk. Jooyeon yang berada di dekat pintu, mendapatkan tatapan tolong-bukakan-pintunya dari semua member After School. Jooyeon hanya menghela napas pasrah.

Klek 

“Oh! Annyeonghaseyo!” Seru Jooyeon sambil membungkuk. “Mencari siapa?”

Tamu itu tertawa, “Siapa lagi Jooyeon-ssi?”

“Ahahaha, benar juga. Baiklah, silahkan masuk.” Jooyeon membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan sang tamu untuk masuk. Tiga orang pemuda langsung menampakkan wajahnya.

“Sunggyu oppa?!” Raina memekik senang.

“Hoya oppa!!” Kalau yang ini Nana.

Annyeonghaseyo!” Ketiga member Infinite itu membungkuk hormat dan dibalas sapaan dari member After School. Jungah langsung memerintahkan membernya untuk keluar ruangan.

“Hei! Berikan mereka privasi. Ayo keluar.” Seru Jungah sambil cekikikan. Member After School yang lain langsung gedebak-gedebuk (?) keluar dari ruangan itu. “Selamat berbicara!”

Nana, Raina, Hoya, dan Sunggyu hanya menunduk malu. Sedangkan Lizzy dan member Infinite yang satu lagi -L- mendengus.

“L-ssi. Lebih baik, kita keluar juga. Aku tak mau jadi obat nyamuk disini.” Lizzy mengajak L keluar. L mengangguk pelan. Mereka lalu menuju atap.

***

“Ahh, segarnya.” Lizzy berseru. Angin berhembus pelan menyentuh wajahnya. Sedangkan L hanya diam. Ia terlihat sedang berfikir. ‘Lizzy.. Lizzy.. Sepertinya aku tak pernah mendengar namanya. Tapi, kenapa ia tampak begitu familiar?’

“Ah! Benar!” L tiba-tiba saja berucap. Lizzy yang mendengarnya menoleh.

Deg 

Lizzy hanya bisa mematung ketika matanya menatap mata L. Ia merasa kenal dengan mata itu. Lizzy memang selalu merasa dekat dengan L. Auranya, suaranya, matanya. Semua itu mirip dengan milik,

Kim Myungsoo.

Lizzy menggelengkan kepalanya pelan. ‘Aduh, kenapa malah kepikiran dia lagi sih?’ 

“Lizzy-ssi,” panggil L. Lizzy hanya menjawabnya dengan ‘Hm’.

“Nama aslimu, memang Lizzy?” Lizzy memasang wajah heran.

“Kenapa jadi bertanya seperti itu?”

“Tidak, hanya ingin tahu.”

“Bukan sih.” L mengangkat alisnya. “Lalu apa?” Tanya L kemudian.

“Park Sooyoung.” Lizzy menjawab enteng. Ia lalu mengeluarkan senyum manisnya.

Deg 

‘P-park Sooyoung? D-dia.. Apakah benar dia..?’ L membatin. Namun, hati memang lebih cepat dari pada pikiran. Tanpa sadar, L maju dan memeluk Lizzy.

“L-ssi,”

“Myungsoo,” Apa katanya tadi? Pikir Lizzy. Matanya melebar. “Kim Myungsoo.”

“M-myungsoo? Ki-kim Myungsoo?!”

“Mm, ini aku, Sooyoung.” Ucap L -Myungsoo- cepat. Lizzy langsung memeluk pemuda itu.

“Myungsoo, aku merindukanmu. Sangat.”

“Ya. Aku tahu, Sooyoung. Aku juga. Dan aku masih.. Aku masih.. Menyukaimu. Ah, mungkin kali ini, aku.. Mencintaimu.” Lizzy -Sooyoung- merasa matanya mulai panas. Tangannya memukul punggung Myungsoo pelan.

Babo! Kenapa saat kau mau pergi, aku tak boleh menjawab pernyataanmu?!” Myungsoo melepaskan pelukannya dengan cepat.

“T-tunggu dulu. Aku.. Maksudku.. Aduh.. J-jangan marah, Sooyoung.” Myungsoo mengatupkan dua tangannya di depan. Lizzy mulai menitikkan air mata. Myungsoo bertambah panik.

“K-kenapa jadi menangis sih? Sooyoung,”

“Aku juga menyukaimu, Myung-babo!”

“Hah?!”

“Aku menyukai.. Bukan, aku MENCINTAIMU!” Sooyoung berseru. Myungsoo terperanjat kaget.

“Lizzy..” Karena tak tahu apa yang mau ia katakan. Myungsoo kembali memeluk Sooyoung.

Setelah tangisan Sooyoung reda, Myungsoo melepaskan pelukannya. Ia kemudian memajukan kepalanya. Sooyoung yang mengerti perlakuan Myungsoo hanya memejamkan mata saja.

5 cm.

3cm.

1cm.

Bobobo boy I miss you baby uh uh uh, Boini neo mitgil barae~ 

Ponsel Lizzy berbunyi nyaring. L segera menjauhkan wajahnya. Ekspresi pemuda itu menyiratkan kekesalan. Lizzy hanya terkikik pelan melihat ekspresi wajah L.

“Halo?”

Ya! Kau dimana?! Kita mau perform!” Pekik sebuah suara yang Lizzy yakin adalah Nana.

“Lizzy-ssi, apakah L bersamamu?” Suara Hoya terdengar.

“Ya, dia bersamaku. Maaf membuat kalian menunggu. Kami akan segera kesana.”

“Cepatlah kesini.” Raina dan Sunggyu menimpali. L langsung merebut ponsel Lizzy.

Arraseo arraseo! Kami kesana!” L berseru nyaring.

Tit 

L memutus hubungan ponsel itu dengan kesal. “Uhh, dasar mengganggu!” Lizzy tertawa, “Sudahlah, ayo kita ke turun, Myungsoo.”

L menghela napas, “Panggil aku oppa.”

“Baiklah. Oppa, Myungsoo oppa.

“Oya, kalau sedang bersamaku kau panggil aku ‘Myungsoo oppa’. Tapi, jika sedang bersama yang lain panggil aku ‘L oppa’. Arraseo?

“Ya Tuhan. Iya, aku mengerti. Sekarang ayo turun, aku tak mau dimarahi oleh yang lain.”

“Ayo.” L menarik tangan Lizzy dan menggandengnya sepanjang perjalanan menuju ke tempat dimana membernya dan member Lizzy berkumpul. Dalam hati, mereka berdua mengatakan,

Terima kasih, sudah mempertemukan aku dan dia lagi. Aku berjanji tak akan melepas dia untuk yang kedua kalinya. Karena dia, orang yang aku sayangi.

-END-

A/N: Jelek? Hehehe, maaf deh. Aku buat FF ini hanya iseng saja. Salahkan ide yang tiba-tiba muncul tanpa diundang -__-“. Meskipun jelek, kuharap orang yang membaca ini memberi comment. Semua bentuk comment aku terima. So, give it a comment. Gomawo 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Eh? Ternyata?!

  1. Saennie Kim says:

    uwaaaaaaaaahhh *O*
    kereeen~! jinjja daebak~!!
    I ship MyungLiz so hard!!!
    love this fict so much! sering sering bikin ff Afterfinite yaaa hehe 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s