Not As I Expected

Park Rynchan present:

“Not As I Expected”

A Fanfiction

YoonChul

Lead cast: Kim Heechul 김 희 철

Im Yoona 임 윤 아

Genre: Romance, Sad

Rating: General

Length: One-Shot

.

.

Oppa!” seorang gadis kecil memanggil temannya yang terlihat sedang bermain pasir. Teman gadis itu menoleh dan menunjukkan senyum lebar. Dengan tangannya yang berlumuran pasir, dia melambai-lambai pada temannya di seberang sana.

“Yoong! Ayo kesini!” dengan tergopoh-gopoh gadis yang dipanggil ‘Yoong’ tadi menghampiri temannya. “Oppa, lagi apa?”

“Lagi buat istana! Kamu mau bantu?” tanya pemuda cilik yang merupakan teman si ‘Yoong’ tadi.  Yoong –atau Yoona mengangguk. “Hm-mm! Aku ingin ikut. Ini istana untuk siapa?”

Pemuda cilik yang bernama lengkap Kim Heechul itu tersenyum, dan senyuman itu membuat Yoona kebingungan. “Kenapa tersenyum?” Yoona bertanya. Heechul hanya menggeleng dan mengacak rambut Yoona. Sedangkan orang yang rambutnya di acak hanya mengerucutkan bibir. “Tangan Oppa banyak pasirnya.” Keluh gadis berusia 4 tahun itu. Heechul tertawa keras.

“Kau tahu Yoong? Ini istana untuk seorang putri.” Sahut Heechul. Yoona kecil memiringkan kepalanya ke arah kanan, “Putri siapa, Oppa?” Heechul tersenyum misterius. Yoona bergidik ngeri.

“Putri itu baik, cantik, dan punya rambut pendek!” Heechul berseru senang. Yoona terdiam sesaat, sebelum akhirnya membuka mulut. Namun sebelum gadis cilik berparas cantik itu mengeluarkan suara, Heechul sudah menyerobot.

“Namanya, putri Im Yoona!” Yoona yang mendengar namanya disebut, apalagi ditambah embel-embel ‘putri’ hanya bisa terkejut. Heechul dengan wajahnya yang berbinar, melanjutkan membangun ‘istana’ miliknya –atau Yoona.

Oppa, gomawo.” Yoona berkata lirih. Heechul menoleh dan memberikan senyum menawan miliknya. “Sama-sama, Yoona.”

Entah kenapa, Yoona merasa ada yang aneh dengan dirinya ketika melihat Heechul tersenyum seperti tadi. Pada akhirnya, Yoona memilih untuk tidak menggubris hal itu. Gadis manis ini lebih memilih untuk berlutut dan ikut membangun ‘istana’ bersama Heechul.

Yoona-ya, kalau boleh aku simpulkan. Mungkin sekarang, kau sudah mulai menyukai Heechul.

***

6 tahun kemudian…

“Yoong!” Yoona menolehkan kepalanya ketika ia melihat sahabatnya berlari ke arahnya. “Ada apa, Yul?” tanyanya lembut. Yuri berusaha mengambil nafas, sehabis lari dari depan gerbang sekolahnya. Yoona hanya bisa tertawa kecil.

“Kau.. hh.. Maksudku, kita.. hh.. Ayo.. hh.. Jalan ke kelas bareng.” Yuri berkata sambil terengah. Yoona mengangguk setuju, mereka lalu mulai berjalan. Ketika Yoona merasa bahwa Yuri masih terengah, gadis ini menawarkan Yuri minumannya.

“Yuri-ya, mau minta airku? Kau terlihat lelah sekali.” Yuri menerima air yang Yoona sodorkan. Namun, sebelum bibirnya menyentuh leher botol, sudah ada tangan yang menyambar dan merebut botol air mineral itu. ‘Huh, dasar! Aku butuh air itu sekarang, apalagi airnya dingin!’ Yuri membatin kesal.

“Hei! Air ini untukku ya?” suara orang yang mengambil botol itu terdengar. Yuri langsung memberikan tatapan membunuhnya pada pencuri botol air mineralnya. “Ya! Kim Jongwoon! Kembalikan airku!!” seru Yuri kemudian. Orang yang Yuri sebut Kim Jongwoon tadi langsung berlari kencang. Dan Yuri yang tak mau Jongwoon merebut airnya mengejar pemuda itu.

Aigoo, kapan mereka mau tumbuh dewasa?” suara Heechul tiba-tiba saja muncul disamping Yoona. “Ooo! Astaga, kau mengagetkanku!”

Heechul hanya tersenyum menunujukkan deretan putih giginya. Yoona memukul ringan lengan kiri pemuda di sampingnya. Reaksi yang Heechul tunjukkan membuat Yoona tergelak. “Yoona-ya, tenagamu memang tak bisa diremehkan.” Ucap Heechul sembari mengelus lengannya.

Yoona melemparkan tatapan membunuh, “Oppa, kau terlalu berlebihan. Aku hanya memukulmu dengan ringan, kau tahu?” Gadis berumur 10 tahun itu kembali memukul lengan pemuda berusia 11 tahun dihadapannya.

“Hei, meskipun kita sudah berteman dari kecil kau tetap harus menghormatiku. Aku seorang sunbae, Yoong.” Heechul memasang tampang angkuhnya, dan itu membuat Yoona kembali tertawa. “Wajahmu tak pantas menjadi seorang sunbae, Oppa!

“Yoona..,” Yoona yang mendengar namanya dipanggil menoleh. Terlihat Yuri sedang berlutut. Heechul tertawa pelan. “Airmu.. Kim Jongwoon sialan itu membawa kabur airmu. Huaa, padahal aku sedang butuh!” Yuri mengerucutkan bibirnya.

“Hei, Jongwoon itu temanku. Dan, aku adalah sunbae-mu. Otomatis, Jongwoon juga sunbae-mu. Jadi, jaga omonganmu.” Heechul menginterupsi dan Yuri hanya memberinya tatapan terus-gue-harus-bilang-wow-gituh-?. “Asal kau tahu saja, Heechul-sunbae. Jongwoon itu teman baikku, jadi aku sudah biasa memanggilnya seperti itu. Toh, dia juga tak keberatan.”

“Mmm..”

“Aku juga teman sepermainan dengan Yoona. Tapi, dia selalu menganggapku sunbae ketika di sekolah.”

“Heechul-sunbae..”

Sunbaenim, kasusku dan kasusmu berbeda, jadi tolong jangan ikut campur!”

“Yul..”

“Astaga, dasar tidak sopan!”

“Apa kau bilang?!! Memang cari masa- HEI!” Yuri berteriak ketika tangannya ditarik oleh orang lain. “Jangan mencari masalah, Yul.” Ucap orang itu dingin. Yuri hanya mempelototinya.

“Diam kau, Kim!” Yuri berusaha melepaskan genggaman orang itu. Namun sayang, seorang perempuan memang ditakdirkan untuk menjadi lebih lemah daripada seorang laki-laki. “Lepaskan!” Yuri terus berontak. Jongwoon hanya menggelengkan kepala melihat tingkah teman baiknya.

“Yul, aku tak akan melepaskanmu sebelum kau minta maaf pada Heechul.” Yuri melotot ke arah Jongwoon. “Yang benar saja! Tidak! Tidak terima kasih!” Yuri yang akhirnya bisa terlepas dari cengkraman tangan Jongwoon, langsung berlari kencang meninggalkan 3 orang lainnya.

“Hhh, maafkan dia.” Heechul hanya tersenyum. Jongwoon kemudian berlari mengejar Yuri. Yoona yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat bicara, “Jongwoon-sunbaenim, kenapa seperti perhatian pada Yuri, ya?” Heechul terkekeh.

CTAK

“Aduh! Sunbae!” Yoona memekik setelah keningnya di sentil Heechul. Gadis ini kemudian meluncurkan tatapan tajam, Heechul hanya tersenyum innocent. “Kau ini memang tidak peka terhadap perasaan orang, ya?” cibir pemuda yang dikagumi para cewek dan cowok itu. Parasnya bisa berubah-ubah sih. Bisa jadi cantik, bisa juga jadi tampan.

“He? Maksud sunbae?” Yoona berfikir keras. Setelah beberapa menit berfikir, Yoona melebarkan mata indahnya. “Jangan bilang kalau..” Heechul sudah keburu mengangguk sebelum Yoona menyelesaikan kalimatnya.

“Yang benar!?”

“Iya, sepertinya Jongwoon memang menyukai temanmu itu, Yoong.” Heechul membalas santai. “Sudahlah, ayo aku antarkan ke kelasmu. Hampir masuk, nih!” sambung Heechul sebelum akhirnya menyeret Yoona.

Yoona yang dari tadi masih sibuk dengan pikiran Jongwoon dan Yuri langsung tersentak ketika tangan Heechul menarik tangannya. Pikiran gadis ini langsung blank. Namun, ia bisa merasakan pipinya memanas perlahan. ‘Aku kenapa, sih?’

***

“Yoona!” Heechul berteriak nyaring. Yoona hanya menoleh malas ke arah pemuda yang memanggilnya tadi, ditangan pemuda itu terdapat sebungkus tas plastik putih. Setelah Heechul sampai didekat Yoona, pemuda ini menunjukkan senyumnya. “Lihat apa yang aku bawa!”

Yoona mengangkat sebelah alisnya, “Apa itu?” Heechul tersenyum lebar sebelum akhirnya mengeluarkan isi dari tas plastik itu. Mata Yoona langsung berbinar senang. Lidahnya menjilati bibirnya –pertanda kalau dia suka. “Ddobeokki!” serunya riang.

Aigoo, kalau urusan makanan.” Heechul menggelengkan kepalanya. Segera dijauhkannya dua bungkus ddobeokki itu dari jangkauan teman baiknya. Yoona mengerucutkan bibirnya. “Oppa! Berikan ddobeoki-ku!” Tangannya di julurkannya ke arah Heechul. Dan pemuda itu hanya menggeleng.

“Uh-uh,” ucap Heechul sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya. “Kau belajar dulu sana!” Yoona makin mengerucutkan bibirnya. Heechul tak perduli dan hanya membawa dua ddobeokki itu ke dapur rumah Yoona. “Ahjumma! Aku pinjam sendok, ya?” Yoona masih bisa mendengar suara Heechul yang hendak meminjam sendok pada ibunya. Setelah meminjam sendok, Heechul kembali masuk ke kamar Yoona dan duduk di sofa empuk yang menghadap meja belajar Yoona.

Pada akhirnya, Yoona hanya bisa pasrah melihat dua ddobeokki itu diborong oleh Heechul. Gadis ini lalu kembali mengerjakan tugasnya. Namun, pikirannya tak fokus –ia masih memikirkan nasib ddobeokki-nya. Dengan mencibir kecil, ia terus mengata-ngatai Heechul.

Heechul yang mendengar Yoona mencibir hanya bisa tersenyum. Tidak, sebenarnya Heechul tidak setega itu kok terhadap Yoona. Dia hanya ingin mengerjai gadis itu saja. Karena menurut Heechul, Yoona yang sedang marah terlihat imut. Bibirnya yang di kerucutkan, hidungnya yang kembang-kempis, alisnya yang membentuk guratan, dan matanya yang berkilat-kilat. Ah, mungkin Heechul lebih suka wajah Yoona yang terlihat seperti ikan ‘Flounder’. Membayangkannya saja membuat Heechul tertawa.

“Hoi, Flounder-ah!” panggil Heechul. Kali ini Yoona tidak menoleh, tidak juga menyahut. Heechul mengerutkan alis. “Ya! Flounder Im! Kau tidak marah, kan?” Tanpa menoleh ke arah Heechul, Yoona mendengus. Heechul tertawa, dan Yoona segera membanting pulpen miliknya ke lantai dengan keras. Menyebabkan ketakutan terlihat di mata Heechul.

“Diamlah, Oppa!” seru Yoona sebelum akhirnya kembali belajar. Heechul menghampiri Yoona dengan hati-hati. Ia juga membawa serta ddobeokki yang memang ia sisakan untuk Yoona. Gadis yang mendengar langkah kaki Heechul itu langsung menghadap ke arahnya dan membuka mulut –siap untuk meneriaki Heechul. Namun sebelum dia bisa  berkata-kata, Heechul sudah terlanjur memasukkan satu porsi gigitan dari ddobeokki untuk Yoona.

Dengan susah payah Yoona berusaha mengunyah ddobeokki yang Heechul masukkan secara paksa ke mulutnya. Matanya langsung melebar ketika rasa pedas menjalar di rongga mulutnya. “Pedas! Air! Air!” Yoona berlarian di kamarnya. Sambil tertawa kecil, Heechul menyerahkan segelas air pada Yoona yang pada detik berikutnya langsung habis tak bersisa. “Haaahh.. Oppa, kau tega sekali!”

“Aku kenapa?” Heechul bertanya, ia memang tak mengerti kenapa Yoona mengatainya begitu. Dengan matanya yang kian menyipit, Yoona bertanya pada Heechul, “Kau sengaja memberi rasa pedas yang banyak di ddobeokki itu, kan? Sudah tahu aku kurang suka yang terlalu pedas. Huh.” Dia akhir kalimatnya Yoona membuang muka, memilih untuk tidak menatap wajah laki-laki di depannya.

“Astaga, Yoon! Aku memang memesan ddobeokki yang super pedas. Aku lupa kau kurang suka yang terlalu pedas. Maaf,” Suara Heechul terdengar menyesal. Dan Yoona masih membuang mukanya. Heechul yang sudah kehilangan akal untuk membujuk Yoona agar tidak marah lagi, langsung berkata dengan spontan, “Arrata, ucapkan apa yang kau mau. Akan aku belikan.”

Dan Yoona meresponnya dengan mata berbinar, “Jeongmal?” Heechul mengangguk perlahan. Yoona melonjak kegirangan sambil terus mengucapkan terima kasih pada Heechul. Meskipun Heechul tersenyum sebagai balasan, dalam hati ia terus merutuki dirinya yang berkata seenaknya, diluar kendalinya, ‘Aish! Mulutku!’

***

Heechul terbengong melihat Yoona yang hanya memesan satu mangkok patbingsoo saja dari tadi. Satu. Hanya satu! Sungguh tak lazim bagi orang yang memiliki gelar shikshin tersebut. “Yoona-ya, kau serius hanya ingin makan itu?” tanya Heechul pada akhirnya. Yoona mengangguk.

Pluk

Tangan Heechul mendarat di dahi Yoona. Yoona memandangi tangan Heechul, perlahan pipinya memanas. Matanya berusaha untuk tidak menatap mata Heechul. “Tidak panas,” Yoona langsung melotot ke arah teman baiknya itu. “Mwo? Aku hanya mengecek. Aku rasa memang ada yang aneh denganmu, Yoong. Masa sebagai seorang shikshin yang terkenal dengan makan banyak, kau hanya memesan satu mangkok patbingsoo?

Wae? Suka-suka akulah. Hari ini memang panas, arro? Kau sendiri kenapa tak mau memesan patbingsoo?” Yoona balik bertanya. Heechul mengangkat bahunya pelan, “Dengar ya shikshin-ku,” mendengar nama panggilannya ditambah ‘ku’ oleh Heechul langsung membuat pipi Yoona memerah sedikit. “Beberapa hari yang lalu, aku sudah berjanji untuk membelikan apapun yang kau mau, jadi aku tak termasuk. Hari ini harimu, arraseo?” dan Yoona hanya merespon dengan sebuah ‘Hm.’

Setelah berkeliling, dan hampir mencicipi semua makanannya. Mereka berhenti di salah satu stand yang menjual Bungeoppang, jajanan Korea yang berupa kue wafel yang dicetak berbentuk ikan mas dan diisi dengan pasta kacang merah yang manis. Mereka membeli dua bungkus bungeoppang. Dalam perjalanan pulang, Yoona selalu memeluk dua bungkus bungeoppang-nya dengan erat. “Tumben kamu beli dua sekarang, dari tadi cuma beli satu. Jiwa shikshin-nya balik nih.” Sindir Heechul pelan. Yoona tersenyum manis.

“Kau tahu Oppa? Aku memang menahan jiwa shikshin-ku untuk keluar dari tadi. Karena aku tahu kemampuan makanku bisa merepotkanmu,” ucapnya sambil terus berjalan beriringan dengan Heechul. “Kali ini, aku beli dua bukan karena jiwa shikshin-ku yang tak bisa aku tahan lagi.” Lanjutnya yang langsung mendapat tatapan tak mengerti dari Heechul.

Geuraeseo?

Yoona berhenti dan menghadap ke arah Heechul, tangannya mengulurkan satu bungkus bungeoppang pada teman baiknya. Heechul menunjukkan ekspressi terkejut. “Ini, untukmu. Aku merasa bersalah padamu yang dari tadi hanya melihatku makan semua kuliner itu. Tolong diterima, Oppa.” Dengan gerakan yang terkesan kaku dan kurang yakin Heechul menerima uluran Yoona.

“Tapi, Yoon. Aku kan sudah bilang kalau ini harimu.” Ucap Heechul. Ia memang tipe orang yang menjalankan dan menepati janjinya sesuai dengan isi dari janji itu sendiri. Yoona menggeleng lalu kembali tersenyum manis, “Hariku.. Takkan lengkap tanpamu, Oppa.” Balasnya. Gadis itu lalu berjalan mendahului Heechul yang masih terhenyak dengan penuturannya itu.

“Ah! Y-ya! Flounder Im, jangan berjalan sendirian!” seru Heechul yang pada akhirnya sadar sudah di tinggal Yoona. Ia kemudian berlari mengejar gadis yang baru saja memberinya bungeoppang tadi.

***

Yoona yang saat itu sedang duduk di bawah pohon besar nan rindang di lingkungan sekolahnya, terlihat murung. Sudah beberapa hari ini Heechul menghiraukannya. Laki-laki yang satu itu tidak membalas SMS-nya, tidak menyapanya ketika bertemu, tidak mengangkat teleponnya, tidak datang main lagi ke rumahnya, tidak lagi membantunya mengerjakan PR.

Yoona tahu. Heechul yang memang sudah berada di kelas XII pasti akan disibukkan dengan berbagai ujian dan ujian yang terus berdatangan. Tapi tidak seperti 4 hari belakangan ini, dulu Heechul masih sering membalas SMS-nya, masih menyapanya ketika bertemu –meskipun dia sedang terburu-buru, masih mengangkat teleponnya, masih datang main ke rumahnya, masih mau membantunya mengerjakan PR. Hal ini membuat Yoona berfikir yang tidak-tidak terhadap sahabatnya yang satu itu. Entahlah, hatinya sakit ketika Heechul mengiraukannya seperti ini. Baru Yoona sadari, ia sudah menyukai Heechul dari dulu. Ya, dari dulu.

Duk            

Mendengar suara benturan yang tidak terlalu lembut di sebelahnya, Yoona langsung tersadar dari lamunannya. Dan disana, ia melihat Heechul sedang mengusap bagian belakang kepalanya yang terbentur dengan batang pohon tadi. Ketika laki-laki itu melihat Yoona sedang memperhatikannya, mulutnya langsung membentuk sebuah cengiran –yang terlalu- lebar. “Gagal deh.” Sesalnya.

Yoona mengangkat alisnya, “Maksudmu? Gagal mengejutkanku, sunbae?” tanya Yoona. Kali ini Heechul yang mengangkat alisnya, ‘Kenapa dia?’ Pikirnya. Tanpa menjawab pertanyaan Yoona, Heechul malah balik bertanya. “Kau kenapa, Yoon?”

“Aku? Aku tidak apa-apa. Tenang saja, Oppa.” Jawab Yoona sambil tersenyum manis. Heechul yang memang sudah mengenal Yoona lama merasa tak yakin dengan jawaban Yoona yang terdengar setengah hati itu. Bahkan, Heechul bisa merasakan kalau senyum manis Yoona itu palsu, di paksakan. “Jangan bertindak seolah semuanya baik-baik saja, Im Yoona.”

Dan Yoona hanya bisa menghela nafas berat, “Kalau aku bilang memang ada yang tidak beres bagaimana, Kim Heechul?” matanya melihat Heechul yang terkejut, mulut laki-laki itu terbuka sedikit. “Kau kenapa? Ada masalah?” wajahnya memancarkan raut kekhawatiran.

“Ya. Ada masalah… denganmu.” Lirih Yoona yang langsung mendapat angkatan alis dari Heechul. Yoona makin menajamkan matanya. “Kenapa Oppa jarang bersama denganku sekarang?” tanya Yoona sebelum Heechul mampu membuka mulutnya. Kali ini, mata Yoona menangkap Heechul yang menahan tawanya.

“Kau.. Jadi, kau hanya mempermasalahkan itu? Astaga, Im Yoona! Kau membuatku panik setengah mati tadi, arro?!” Heechul masih saja menunjukkan wajah ingin-tertawa-tapi-takut, dan itu membuat Yoona ingin meninju pemuda yang harusnya ia panggil sunbae itu. “Benar juga, aku lupa memberi tahumu, ya?” Yoona mengangkat alisnya. ‘Beri tahu apa?’

“Yoong, belakangan ini dan seterusnya aku harus agak menjaga jarak denganmu,” Yoona terpekur. Apa katanya? Heechul membuatnya menyukai laki-laki tersebut, dan Heechul juga yang ingin membuatnya tersiksa akan tidak adanya Heechul disisinya?! Oh, Yoona mempelajari satu hal tentang cinta. Cinta itu menyakitkan.

Wae?” suaranya, Yoona bisa merasakan suaranya yang pecah. Air mata sudah terbentuk di pelupuk matanya, siapa untuk ditumpahkan. Heechul yang tidak menyadari perubahan suara Yoona, berkata dengan riangnya. “Aku sudah punya pacar, Flounder~.”

Yoona membiarkan suara pecahan hatinya yang hanya di dengar telinganya. Dia membiarkan Heechul yang masih mengoceh panjang kali lebar tentang seseorang yang ia sebut ‘pacar’. Yoona masih bisa mendengar siapa orang yang menjadi pacar Heechul. Ahn Sohee.

Dengan matanya yang mulai kabur akan air mata, Yoona menatap Heechul yang terlihat berbinar. Biar, biarlah dia bahagia. Melihatnya seperti ini saja sudah cukup. Aku harus bisa melupakannya, mungkin dia bukan yang terpilih untukku. Mungkin aku juga bukan yang terpilih untuknya. Harusnya, untuk menjadi salah satu orang yang berarti di hidupnya saja aku sudah harus bersyukur. Meskipun tempatku harus digeser oleh seseorang bernama, Ahn Sohee.

Lalu, apakah istana yang kau bangun dulu akan kau serahkan juga padanya? Tahta ‘putri’ yang tadinya untukku, apakah akan kau berikan padanya? Akankah kau melupakanku? Ya, mungkin kau akan melupakanku dan mungkin kau akan memberikan ‘tahta’ku padanya. Tapi, camkan ini. Aku akan selalu ada disana untukmu, aku selalu disana jika kau membutuhkanku.

Neol saranghanikka..

***

“Yoong! Aku ingin itu!” Yoona menatap sedih pada sosok di depannya yang sedang menunjuk poster ice-cream besar. Kim Heechul, dia memang orang yang sama. Namun, jalan pikirannya berbeda. Tubuhnya memang sudah dewasa, namun pikirannya seperti anak kecil. “Hum? Chulie ingin itu? Ayo pulang, Yoong punya satu loh di kulkas.” Mata Heechul berbinar-binar begitu Yoona mengatakan bahawa ia mempunyai ice-cream.

Tidak, awalnya Heechul tidak seperti ini. Dia masih pria normal yang mempunyai jalan pikir normal. Itu dulu, 1 tahun yang lalu. Hidupnya langsung berubah ketika Sohee mencampakkannya dan pergi menikah dengan orang lain. Yoona masih ingat betapa kacaunya Heechul malam itu, malam dimana Sohee meninggalkannya. Matanya sembab, pakaiannya berantakan, rambutnya acak-acakan. Kemana perginya Kim Heechul yang selalu tampil modis? Tidak, dia tidak ada di situ malam itu.

Dengan suaranya yang terdengar parau –dan itu menusuk hati Yoona- Heechul bercerita tentang apa yang di alaminya. Tentang bagaimana jahatnya Sohee meninggalkannya, tentang bagaimana kata-kata Sohee yang menusuk hatinya, tentang bagaimana hatinya yang hancur. Tak tahukah kau Heechul-ah? Yoona juga merasakan sakit yang sama ketika melihatmu bersama Sohee, ketika kau bercerita Sohee nonstop.

“Yoong?” suara kecil Heechul menyadarkan Yoona yang baru saja melamun. Menggeleng pelan, Yoona kemudian menggandeng tangan Heechul menuju Rumah Sakit dimana laki-laki itu dirawat. Kenapa harus Yoona? Karena Heechul hanya ingin Yoona yang menjaganya, Heechul pasti akan tenang jika bersama Yoona.

Begitu mendapatkan ice-cream, Heechul langsung memakannya dengan semangat. Yoona yang melihatnya hanya tertawa kecil. Meskipun kelakuan Heechul seperti anak kecil, Yoona berpikir itu lucu. Heechul memakan ice-cream rasa vanilla itu bak orang yang tak pernah merasakannya. “Yoon, kau mau?” Heechul menawarkan ice-creamnya pada Yoona. Yoona menggeleng pelan, “Tidak usah.”

“Nggg, beneran? Yoona nggak mau? Chulie makan semuanya loh, aaaa~.” Ucap Heechul sambil memasukkan ice-cream dengan perlahan ke dalam mulutnya. Yoona tertawa kecil, “Memangnya, Chulie ingin membagi ice-creamnya?” tanya Yoona sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Heechul. Pertanyaan Yoona disambut dengan anggukan cepat Heechul. Yoona membuka mulutnya, meminta Heechul untuk memasukkan sesendok ice-cream ke dalam mulutnya.

“Mmm, terima kasih.” Gumam Yoona setelah mendapatkan sesendok ice-cream. Tangan Heechul bergerak ke pipi Yoona, “Berantakan!” serunya sambil menghapus sisa ice-cream yang tercecer disana. Mata Yoona melebar perlahan, tangan Heechul masih sama hangatnya seperti dulu. Terkadang, ia ingin berjalan bersama Heechul yang ‘sebenarnya’, bukan Heechul yang sekarang. Namun belakangan ini ia sadar, Heechul yang ‘sebenarnya’ atau bukan. Dia sudah bersyukur bisa bersama dengan laki-laki ini setiap saat. Dan Yoona masih bisa bersyukur Heechul mengenalinya.

***

Malam itu, Yoona menghampiri Heechul yang sedang tidur di kamarnya. Gadis itu ingin mengucapkan apa yang di pendamnya selama ini. Ketika ia masuk, Heechul sedang tidur. Dan Yoona pikir, inilah saat yang tepat. Ia menghampiri ranjang yang di tiduri Heechul dengan perlahan.

Oppa-ya, aku akan jujur kali ini. Dengarkan aku, arraseo?” ucap Yoona pada sesosok tubuh yang jiwanya sedang berpetualang di hadapannya itu. Wajahnya tampak damai, polos, dan.. tampan. Gadis itu terlihat akan menangis. Bila diperhatikan lebih dekat, mata gadis itu berkaca-kaca. Siap untuk menumpahkan air mata.

“Kau tahu, Oppa? Kita sudah berteman selama berapa tahun?” Hening. Tentu saja sesosok tubuh didepannya tidak menyahut –sosok itu sedang tidur. Yoona menitikkan air mata, lalu menghapusnya pelan. “Lebih dari 10 tahun, Oppa.” gadis itu terus berbicara, meskipun ia tahu pemuda di hadapannya tetap tidak akan menyahut. Dengan pelan, ia menarik kursi disamping ranjang dan duduk di kursi itu.

“Selama itu juga. Aku.. merasakan.. perasaan aneh jika didekatmu, Oppa.” Tetesan air mata kembali turun. Membasahi pipi sang penetes air mata. Tangannya bergerak mendekati tangan tubuh tertidur di hadapannya, kemudian meremasnya perlahan. “Aku, selalu merasakan jantungku berdegup kencang jika didekatmu,” Gadis itu menghirup nafas perlahan. Ia menggigit bibir bawahnya keras, berusaha tak mengeluarkan suara isakan yang bisa membangunkan pemuda ini.

“Pipiku selalu terasa panas jika kau menyentuh tangan, kepala, dahi, dan pipiku,” Yoona makin mengeratkan remasan tangannya. Isakan-isakan yang tak ia harapkan keluar, malah terdengar –meskipun tak terlalu keras. “Oppa tahu artinya itu semua, kan?”

“Aku tahu, aku terlalu berharap. Tapi, itu juga salahmu!” tangan gadis itu yang tidak meremas tangan pemuda dihadapannya, memukul lengan pemuda itu. “Kenapa? Kenapa Oppa bertindak seakan Oppa memiliki rasa sepertiku?” Hening. Yoona sudah tak bisa menahan puluhan butir air mata yang mendesak keluar. Menggambarkan betapa sakitnya ia. Hatinya miris membayangkan kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini. Apalagi, peristiwa yang membuat pemuda ini sampai terbaring di ruangan pengap dan berbau obat.

Oppa… Aku menyukaimu. Aku suka Oppa apa adanya. Aku tak peduli kata orang lain. Aku tahu, Oppa tak akan membalasnya. Karena di hati Oppa hanya ada gadis itu, kan? Tak apa, aku hanya ingin Oppa tahu perasaanku. Saranghaeyo.” Dengan gerakan perlahan dan terkesan ragu, gadis ini maju dan mengecup pipi pemuda yang masih terlelap. “Gomawo.” Lirihnya sebelum keluar dari ruangan tersebut. Ia berlari menjauh, tanpa tahu apa yang terjadi di ruangan yang ditinggalkannya.

Nado saranghae, Yoong.” Balas Heechul yang ternyata sudah terbangun sejak Yoona mengatakan perasaan yang gadis itu pendam padanya. Laki-laki itu membalasnya dengan suara laki-laki pada umumnya, bukan suara ceria bak anak kecil. Bukan. Tapi, suara berat dan besar miliknya. Setelah itu, ia kembali menutup matanya dan kembali menyusuri alam bawah sadar yang bernama mimpi. Biarlah, biarlah hanya dia dan barang-barang di ruangan itu yang tahu pernyataannya pada Yoona. Karena saat ini, Yoona ada di sisinya dan tak akan meninggalkannya. Ya, itu sudah lebih dari cukup.

.

END

.

A/N: Maaf, jelek ._.V. Kalau boleh jujur, akhirnya itu yang kelakuan Heechul jadi anak kecil itu, saya terilhami dari salah satu FF tentang anime Bleach. Disitu, si Ichigo kelakuannya jadi anak kecil karena ditinggal nikah sama pacarnya, dan Orihime yang nemenin Ichigo. Maaf kalo pairnya banyak yang gasuka, aku tahu banyak yang suka YoonBum. No comment? It’s alright 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s