With Him [Part 5]

Title : With Him [Part 5]

Author : RyoRyn (@AnnisaHaris_)

Genre : Humor, Friendship, Romance, Hurt/Comfort

Rating : PG-13

Length : MultiChapter

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Support Cast :

  • Seo Joohyun
  • Kim Ryeowook
  • Son Naeun
  • Lee Gikwang

A/N: Maaf ya, Knightdeul yang sudah nunggu FF gaje ini. Saya seminggu ini sakit cacar dan gaboleh nyentuh laptop dulu, takut pusing katanya-__-V. Langsung saja deh, Happy Read!

———————————————————————————————————

Sebelumnya~

“Ne. Waeyo? Kau mau menceritakannya?” Kyuhyun menolehkan kepalanya ke Sooyoung, bersiap mendengarkan segala cerita gadis dihadapannya. Ia bahkan sudah siap jika kemejanya basah. Karena dilihat dari raut wajah Sooyoung, gadis itu sudah siap menangis kapan saja.

“Apa boleh?” Kyuhyun mengangguk setuju. Sooyoung menghela napasnya berat. ‘Apakah aku dapat mempercayaimu Kyuhyun-ssi?’

“Jadi begini,”

——————————————————–

-Kyuhyun POV-

Aku tak habis pikir, Sooyoung yang terlihat tegar ternyata memiliki kenangan seperti itu. Ternyata ada orang yang lebih kurang beruntung dariku. Aku hanya menghela nafas. Aku melirik Sooyoung yang menangis di pundakku. Tadi, aku memang menawarinya pundakku untuk jadi tempat menangisnya.

Pundak Sooyoung masih naik-turun, tangannya masih berusaha untuk menghapus air matanya yang terus-menerus keluar. Aku, secara perlahan mengangkat tanganku. Dengan sedikit ragu, tanganku bergerak menuju kepala Sooyoung. ‘Aku ingin mengelus kepalanya. Apa boleh?’. Pada akhirnya kuputuskan untuk meletakkan tanganku di kepala Sooyoung, aku lalu mengelus kepalanya perlahan.

“Shh, gwaenchana. Uljima.” Aku berusaha menenangkan Sooyoung.

Greb.

Eh?

Aku merasakan sepasang tangan melingkari pinggangku. Tangannya hangat. “Sooyoung-ssi?

Jebal. Aku.. Sedang.. Butuh.. Seseorang.” Balasnya sambil terisak pelan. Aku menghela napas. Tanganku yang tadi ada di kepala Sooyoung, kini beralih ke punggung Sooyoung. Aku mengelus punggungnya pelan.

“Aku disini.”

5 menit kemudian, tangisan Sooyoung mereda. Ia berkali-kali menghapus air matanya yang terus mendesak keluar. Meskipun isakannya berhenti, air matanya tetap keluar. “Aish! Benar-benar! Kenapa air mataku tak mau berhenti?!” Sooyoung berucap kesal. Aku hanya menghentikan gerakan tangannya yang terus menghapus air matanya dengan kasar.

“Hei, tak apa. Itu hakmu, kan? Mau menangis, menangis saja lagi. Aku disini, Sooyoung-ssi.” Aku berkata lembut. Sooyoung hanya menggeleng pelan. “Sudah. Geumanhae. Aku lelah mengis untuknya.” Aku hanya mengangguk paham.

“Mmm, jadi..” Sooyoung menatapku. Aku balas menatapnya. “Sahabatmu meninggalkanmu saat hujan? Itu sebabnya kau selalu menagis ketika hujan?”

“Ya, benar.” Sooyoung menjawab dengan suara lirih.

“Ada yang tak aku mengerti,”

“Apanya? Kurasa aku sudah menceritakan semuanya.”

“Kenapa dia meinggalkanmu?” kulihat napas Sooyoung tercekat. Kurasa dia tak siap dengan pertanyaanku yang satu ini. Raut mukanya tiba-tiba berubah. “Aaa! Arraseo arraseo. Tak usah kau ceritakan. Maaf kalau ucapanku menyinggungmu.” Aku buru-buru mengucapkannya.

Sooyoung menggeleng pelan, “Aniyo. Aku tak apa. Kau penasaran ya?” ia berusaha tersenyum. Aku benci senyumnya yang seperti itu. Tak lepas, tak ceria. Hanya senyum menahan perih. “Sudahlah. Jangan memaksakan diri. Kalau kau tidak mau juga tak apa.”

Gwaenchana. Aku-“

“Uh-uh! Cukup sampai disini. Aku tak mau kau menangis lagi.”

“Kau mengkhwatirkan aku, ya? Kyuhyun-ssi?” tanya Sooyoung sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku. Mataku melebar sempurna. “Na?! Tidak. Jangan GR kau, Sooyoung-ssi.”

“Lalu? Kenapa kau tak mau aku menangis lagi?”

Karena aku benci matamu yang berair seperti tadi. Aku benci suara paraumu. Aku benci senyum terpaksamu…

“Kau kira karena apa? Kemejaku sudah basah kuyup. Mau kau tambah lagi?” aku beralasan. Sooyoung tertawa kecil. Tawa yang tidak dia paksakan.

Aku suka senyum legamu. Aku suka tawamu. Maka dari itu, teruslah tersenyum…

Tanpa sadar, aku ikut tersenyum dan tertawa bersama Sooyoung. Setelah tawa dan senyum itu berakhir, aku menoleh ke arah Sooyoung yang sekarang sedang memainakan ponselnya.

“SMS?” aku bertanya. Sooyoung mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya. “Ya.” Balasnya singkat. Ia lalu kembali fokus pada ponsel touchscreen-nya. Sesekali dia tersenyum. Aku hanya menaikkan sebelah alisku.

Nugu?” aku berbisik pelan. Kurasa Sooyoung tak akan mende-

“Lee Gikwang.” Oke, Sooyoung mendengar bisikanku yang super duper pelan tadi –menurutku. Tadi siapa katanya? Lee Gikwang? Seorang lelaki.

“Dia temanku.” Sooyoung kembali berucap. Dia seakan bisa membaca pikiranku. Ia kemudian memasukkan ponselnya ke tasnya dan pandangannya kemudian beralih padaku. “Wae? Kau cemburu?”

Aku menaikkan sebelah alis. “Mimpi kau!” Sooyoung tertawa.

Arraseo. Kita pulang ya? Kasihan sepupuku.”

“Sepupu yang mana?”

Sooyoung memutar kedua matanya. “Kau lupa ingatan atau apa? Itu, yang memanggilmu ‘Ahjussi’ tadi pagi.” Aku berusaha mengingat.

Oh. Gadis menyebalkan tadi pagi itu.

Aku ingat.

“Oh..” aku menggumam tak jelas. Sooyoung bangkit dari tempatnya. “Kajja.” Ajaknya. Aku ikut bangkit dan membereskan meja kerjaku. Tas laptop beserta isinya sudah kutenteng. Tinggal kunci mobil. Nah, dimana kunci sialan itu?

“Mencari apa?”

“Kunci mobil.”

Sooyoung tertawa keras mendengar responku, aku mengerutkan kening. Apanya yang lucu?

“Kenapa tertawa?”

“Aduh.. Sepertinya kau memang cocok di panggil ‘Ahjussi’. Oh, tidak! Lebih cocok ‘Harabeoji’.” Ucapnya. Aku menggeram.

“Maksudmu apa?! Jangan buat aku marah!”

“Untuk apa marah? Memang kenyataannya,” aku menunggu kelanjutan kata-kata Sooyoung.

“Itu. Yang menggantung di kantong jasmu itu apa?” aku meraba kantong jasku. Kunci mobil. Aish! Memalukan!

“Sudahlah! K-kajja!” aku berjalan cepat melewati Sooyoung. Sooyoung menyamakan langkah kakinya dengan langkah kakiku dengan susah payah.

Hwanasseoyo?” aku tetap tidak bergeming. Aku malah mempercepat laju jalanku.

Sooyoung kembali menyusul langkahku, “Hei. Hwanasseoyo?” aku berhenti berjalan. “Hwa annasseoyo. Sudahlah, ayo.”

Kulihat dari sudut mataku, Sooyoung mengangkat bahunya dan kembali melangkah bersamaku. Aku menghela nafas. ‘Aku harus terbiasa dengan ini. Mulai sekarang, kau akan menghadapi yang seperti ini. Cho Kyuhyun  fighting!’ aku berseru dalam hati. Ya, aku akan menghadapi semuanya. Termasuk menghadapi makhluk yang kadang menyebalkan seperti yang dibelakangku ini.

“Haaah..” aku kembali menghela nafas panjang.

-Kyuhyun POV End-

***

Naeun menggeram pelan. Sepupunya itu belum pulang sampai sekarang. Dan dia cemas, cemas setengah mati. Apalagi, tadi pagi ia melihat Sooyoung dengan seorang pemuda. Geraman kembali keluar dari mulut Naeun ketika gadis itu mengingat kejadian tadi pagi.

KRIING

Bunyi telepon rumah mengagetkan Naeun. Gadis itu merutuki telepon yang berdering nyaring. Ia lalu berjalan menuju tempat telepon rumah diletakkan. Tangannya mengangkat gagang telepon. “Yeoboseyo?” ia bertanya dengan suara pelan.

“Ini benar rumah Choi Sooyoung?” ucap sang penelpon. Naeun mengerutkan kening. “Iya. Ini rumah Choi Sooyoung. Ada perlu apa?”

“Oh, begitukah? Sooyoung-nya ada?” Naeun semakin mengerutkan kening. ‘Orang ini! Sudah pertanyaanku tak pernah dijawab! Lalu, kenapa ia malah berbicara banmal padaku? Punya sopan santun gak sih?’

Yeoboseyo?” penelpon itu kembali membuka suara. Naeun tersadar dari lamunannya dan menatap telepon itu geram. “Eonnie belum pulang. Ada yang mau aku sampaikan?”

“Ah! Eobseoyo. Maaf mengganggu, Nona. Selamat malam.”

“Malam.”

KLEK

Ganggang telepon itu Naeun –nyaris- banting. Ia melotot ke arah telepon rumah sepupunya. “Apa-apaan?! Dasar tidak sopan. Untung saja kau tidak aku labrak!” Naeun heran. Kenapa setelah ia pergi ke Jepang satu tahun lalu, semua di Korea seakan berubah? Kalau tahu begini, Naeun lebih memilih tetap di Jepang. Karena disana, orang-orangnya sangat sopan. Naeun menghela nafas berat. Ingatannya kembali ke hari itu. Hari dimana ia bertemu seorang pemuda berkacamata. Rambutnya cokelat, hidungnya mancung, badannya tak tinggi –malah nyaris sama dengan Naeun. Entah kenapa, pemuda itu menarik perhatiannya.

“Uh, sudahlah. Jangan pikirkan itu lagi.” Naeun bergumam pada dirinya sendiri.

TING

TONG

Bel pintu rumah berbunyi. Kepala Naeun berdenyut-denyut. Pandangan gadis itu agak mengabur. ‘Ada apa ini?’ ia membatin. Dengan langkah yang terkesan terseok-seok, ia berjalan menuju ke pintu besar yang menghubungkan bagian dalam rumah sepupunya dengan dunia luar. Tangannya bergerak untuk membuka pintu. Ketika ia berhasil membuka pintu, Naeun menyipitkan mata.

Nuguseyo?” Naeun berucap serak. Matanya mulai kabur, tenggorokannya sakit. Tapi, ia masih bisa melihat raut cemas dari orang yang ada di hadapannya.

“N-nona, anda tak apa?” orang itu berkata gugup. Naeun mengangguk lemah. “Saya tidak apa-apa. Jangan cemas. Ada yang bisa saya bantu?” Diam-diam, Naeun menghela nafas lega. Setidaknya, ada seseorang yang bisa sopan santun.

“N-nona, muka anda pucat. Mau saya bantu ke Rumah Sakit?” Naeun menggeleng, meskipun menggeleng membuat kepalanya makin sakit. “Tidak usah. Saya tak perlu ke Ru-“

BRUGH

“E-eh! N-nona! Sadar, Nona! Nona!” orang yang tadi berbicara dengan Naeun bermuka pucat. Ia padahal tak melakukan apa-apa pada diri Naeun. Namun, gadis itu tiba-tiba saja ambruk. Refleks, dia menangkap tubuh gadis itu.

“Bagaimana ini?” orang itu menggumam panik. Ia kemudian memutuskan untuk menggotong gadis yang jatuh dihadapannya tadi ke dalam mobilnya, Naeun dia tidurkan di jok tengah. Perlu dia akui, tubuh gadis ini ringan. ‘Astaga, bagaimana jika Sooyoung pulang? Bagaimana cara aku memberitahunya?’ orang tadi yang ternyata seorang pemuda itu kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu.

Sooyoung-ah, gadis yang tinggal bersamamu pingsan. Aku membawanya ke Rumah Sakit ‘Chung-Ang’. Tolong jangan panik, dan segeralah kesini.

–          LEE GIKWANG

Ia kemudian menempelkan kertas tadi ke pintu luar rumah Sooyoung. Setelah memastikan semuanya aman di rumah Sooyoung. Pemuda itu masuk ke dalam mobilnya lalu melaju ke Rumah Sakit ‘Chung-Ang’.

***

“Kenapa mendadak perasaanku jadi tak nyaman?” Sooyoung menggumam kecil. Saat ini, dia sedang berada di dalam mobil Kyuhyun. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari kantor Kyuhyun. Suasana di dalam mobil terdominasi oleh keheningan, selama di perjalanan mereka –Kyuhyun dan Sooyoung- hanya berdiam diri.

Lama-kelamaan, perasaan Sooyoung makin tak nyaman. Gadis berusia 21 tahun itu bergerak-gerak gelisah di tempatnya. Kyuhyun yang memang dari tadi memperhatikan gerak-gerik gadis disebelahnya, mengerutkan kening. ‘Dia kenapa sih?’ Kyuhyun membatin dalam diam. Karena sikap Sooyoung sudah kembali seperti semula, Kyuhyun kembali terfokus pada jalanan.

Aish.” Sooyoung mengeluh pelan. Pikirannya kacau dan hatinya tidak tenang. Entah apa yang merasuki dirinya, Sooyoung tak tahu. Kyuhyun yang sudah mulai penasaran dengan tingkah Sooyoung bertanya, “Kau kenapa, Sooyoung-ssi?” Kyuhyun menoleh ke arah Sooyoung selama 5 detik, lalu kembali meniti jalanan yang tetap ramai meski sudah hampir pukul setengah 11 malam. Inilah Seoul. Bahkan bisa dibilang, Seoul hari ini makin mirip dengan Amerika.

Jeoyo? Ah, aku tak apa.” Sooyoung membalas pelan. Walaupun mulutnya berbicara bahwa ia tak apa, namun hati dan pikirannya berkata lain. Kalau boleh jujur, pikiran Sooyoung hanya mengarah pada Naeun. Gadis yang merupakan sepupunya itu terus memenuhi pikirannya.

Kyuhyun menghembuskan nafas perlahan, ia tahu ada yang Sooyoung sembunyikan dari dirinya. “Malhaebwayo. Aku tahu kau sedang ada pikiran.” Sooyoung menoleh ke arah Kyuhyun. Gadis itu menatap Kyuhyun dengan tatapan penuh tanda tanya. ‘Kenapa dia selalu tahu apa yang aku rasakan?’

“Aku merasa tak nyaman,” Kyuhyun mengerutkan kening. “Kau sakit?” pemuda itu bertanya pada Sooyoung.

Aniyo. Bukan itu maksudku.” Baiklah, kali ini pemuda itu benar-benar penasaran. Dari pertama bertemu, gadis disampingnya ini memang mengandung banyak misteri. Dan Kyuhyun ingin memecahkan misteri itu. Meskipun akhir-akhir ini dia tak sempat berfikir tentang misteri yang Sooyoung miliki –karena ia punya banyak perkerjaan.

“Lalu? Ada apa, Sooyoung­-ssi?”

“Perasaanku tak nyaman, Kyuhyun-ssi. Pikiranku tertuju pada Naeun. Apakah anak itu baik-baik saja?”

DING

Lampu merah traffic light menyala, menyuruh pada para pengemudi untuk menuggu selama beberapa detik atau bahakan menit. Kyuhyun mengerem mobilnya pelan. Ia memanfaatkan lampu merah ini untuk mengahadap ke arah Sooyoung.

“Naeun? Sepupumu itu?” tanya Kyuhyun yang disambut dengan anggukan pelan Sooyoung. “Memangnya dia kenapa?”

Sooyoung mulai merasa jengkel dengan Kyuhyun. “Mana aku tahu. Aku kan hanya berfirasat, Kyuhyun-ssi.” Ucap Sooyoung ketus. Harus Sooyoung akui, Kyuhyun ini terkadang agak kurang connect dengan beberapa percakapan yang mereka lakukan.

“Oh.. Baiklah.” Kyuhyun membalas singkat.

Suasana di mobil Kyuhyun kembali hening. Semua diam. Mata Kyuhyun tertuju pada lampu traffic light yang masih menyalakan warna merah. Sedangkan Sooyoung hanya memandang ke luar jendela. Pandangannya kosong, pertanda kalau ia sedang memikirkan sesuatu.

DING

Warna hijau akhirnya muncul, yang berarti para pengemudi mobil atau motor bisa kembali melaju. Kyuhyun-pun ikut kembali melajukan mobilnya di jalanan Seoul. Suasana tetap hening di mobil pemuda itu. Sehingga, Kyuhyun mencari cara agar dapat membuat suasana di mobilnya tidak canggung seperti sekarang.

“Sooyoung-ssi,”

“Hm, waeyo?” Kyuhyun merasa bulu kuduknya berdiri. Jawaban dari Sooyoung sungguh terkesan dingin dan malas-malasan. Entah apa yang sudah Kyuhyun lakukan atau katakan pada gadis itu, sampai-sampai nada bicara Sooyoung yang biasanya ceria menjadi dingin.

Kyuhyun menggeleng pelan, “Aniyo. Aku merasa suasana di mobil ini terlalu sepi, aku bisa menyalakan musik, kan?” mata pemuda itu melirik-lirik cemas ke arah gadis disampingnya.

“Terserah saja. Ini mobilmu, kan? Kyuhyun-ssi.” hati Kyuhyun mencelos. Pemuda ini kembali mengingat beberapa menit –atau jam- yang sudah dia habiskan bersama Sooyoung hari ini. ‘Apa yang sudah kulakukan? Apakah aku pernah membuatnya kesal?’ Kyuhyun berfikir keras.

“Ah, kalau boleh memberi saran. Aku ingin kau memutar lagu ‘Closer’.” Suara Sooyoung kembali ceria. Dan itu membuat bulu kuduk Kyuhyun kembali berdiri. ‘Kenapa kelakuannya sering berubah-ubah sih?’

“’Closer’? Lagu yang Kim Taeyeon nyanyikan itu, ya?” Sooyoung mengangguk semangat.

“Hm-m! Aku suka lagu dan liriknya. Apalagi,” Sooyoung menggantung perkataannya. ‘Apalagi… Liriknya persis dengan yang aku alami.’ Lanjut Sooyoung dalam hati.

“Apalagi?” Kyuhyun mengulang kata-kata Sooyoung, pemuda itu menuntut akan jawaban. Sooyoung menggeleng pelan, “Aniyo. Bukan apa-apa.

Sebenarnya, Kyuhyun masih belum yakin akan jawaban gadis disampingnya ini. Ia merasa, masih ada yang Sooyoung ingin utarakan. Namun ragu untuk memberi tahunya. Pemuda 22 tahun ini menghela nafas. Biarlah kali ini Soyoung tak mau memberi tahu dirinya. Kyuhyun tahu, cepat atau lambat Sooyoung pasti akan menceritakannya. Dia hanya akan menyiapkan diri mendengarkan cerita dari Sooyoung.

***

“Eh? Mwoya ige?” Sooyoung menggumam kecil. Kyuhyun yang mendengar ucapan Sooyoung lekas menghampiri gadis itu. Kyuhyun mengerutkan kening begitu melihat secarik note yang penuh dengan tulisan yang –perlu Kyuhyun akui- rapi. Ia menoleh ke arah Sooyoung. Mata gadis itu jeli membaca tiap kata di note tadi. Tiba-tiba saja, gadis itu memekik pelan.

Wae? Waeyo?” Kyuhyun berkata panik. Melihat Sooyoung yang sekarang malah berbalik dan menuju ke mobilnya, Kyuhyun segera menghampiri gadis itu. Tangan Sooyoung bergetar hebat. Gadis itu mencoba membuka pintu mobil Kyuhyun –yang sudah Kyuhyun kunci.

“Buka.. Cepat buka!”

“S-sabar, Sooyoung-ssi! Memangnya ada apa?”

BRUK

Sooyoung menabrak dada Kyuhyun perlahan. Gadis itu memeluk Kyuhyun, ia kembali menangis. Kyuhyun yang terkejut dengan tingkah gadis dipelukannya hanya bisa memandang heran. Dengan gerakan halus, Kyuhyun membalas pelukan Sooyoung. Gadis itu menyerahkan note yang tadi ia baca.

“K-kyuhyun-ssi…” Sooyoung terisak. Kyuhyun yang sudah selesai membaca note tadi, langsung memeluk erat gadis di dekapannya. “Shh, sepupumu akan baik-baik saja. Percaya padaku.” Sooyoung mengangguk perlahan.

Tanpa buang waktu lagi, Kyuhyun membuka pintu mobilnya. Ia kemudian menyuruh Sooyoung yang masih menangis untuk msuk kedalam. Dalam diam, Kyuhyun kembali mengendarai mobilnya di jalanan Seoul.

Karena Kyuhyun cemas dengan Sooyoung yang terus menangis, dia meletakkan tangannya di punggung Sooyoung. “Shh, uljimayo.

“Ma-maaf. Aku hanya, me-mengkhawatirkan Naeun. Aku takut kehilangan anak itu, Kyuhyun-ssi.” Sooyoung berkata dengan terisak. Kyuhyun menggeleng perlahan, “Jangan meminta maaf. Dan, percayalah padaku.”

***

Drap.. Drap.. Drap..

Suara langkahan kaki yang terlihat tergesa itu menghidupkan suasana lorong rumah sakit yang tadinya sepi, hening. Dua orang manusia itu dengan teliti memeriksa setiap nomer yang ada di tiap-tiap pintu ruangan pasien. Salah satu diantaranya terlihat menahan air mata, dan satunya lagi terlihat kelelahan.

182..

183..

184..!!

.

TBC

.

A/N: Pendek ya? Pendekkah? Maaf, ini juga saya maksimalkan. Saya lihat statistik FF ini, kok yang comment tambah dikit ya? Apa karena ceritanya yang tambah nggak karuan dan jelek?. Ah, tapi udah ada yang comment saya udah girang banget. Makasih bagi semua Knightdeul yang meluangkan waktunya membaca FF ini.

Advertisements

36 thoughts on “With Him [Part 5]

  1. Febryza says:

    Soo eonni ada hubungan apa sama gikwang? Naeun nya bakalan baik-baik aja kan?
    Kyuyoungnya so sweet banget.. Apalagi kyu oppa kayaknya engga mau banget soo eonni nangis lagi

  2. WinKyu says:

    Wuah bnyak skinship Kyuyoung, tp aku blm dpt feel.y nih, aku mrasa mreka msh canggung stu sma lain…
    Naeun knp tuh?
    Next part yah! Hwaiting!

  3. Cie cie pelukan terus nih kyuyoungnya, tapi kenapa mereka masih canggung ya?manggilnya masih pake embel embel keke gapapa perlahan lahan tp pasti (?) .
    Itu naeun sakit apa ya? Terus yg nelpon siapa?terus namja yg naeun suka jg siapa? Aduh banyak nanya hehe

  4. edrarybelvi says:

    hwa..naeun kenapa?
    yang nelfon nggak punya sopan-santun siapa?
    yang ketemu ama naeun siapa?
    huaa..banyak hal yang mash gantung dikepalaku author..
    next part aku tunggu yah 🙂

  5. kasian soo nangis mulu, cerita sm kyu nangis, sepupunya masuk rumah sakit jg nangis TT__TT jd ikutan sedih. kyu temenin soo terus ya….. kasian soo sedih mulu. semoga sepupunya baik2 aja X-(

  6. aichantastic says:

    Authoor, waktu baca ff ini aku lagi denger lagu closer juga lhoo #gakadayangnanya
    Huwaaa kyuyoung moment nya banyak
    Naeun kenapa? Trus hubungannya gikwang sama soo apa?
    Next part soon

  7. nina says:

    akankah Soo, merasa kehilangan lagi….
    masih penasaran sama ceritanya Soo yang kehilangan ‘sesorang itu’
    apa yang menyebabkannya?
    ikatan batin? atau apa…
    the next be wait,.~
    Fighting!!!~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s