The Chocolate

Minyoung Lee present:

TC cover (undone)

“The Chocolate”

A fanfic

Cast: Lee Howon 이호원 (Hoya호야)

Im Jinah 임진아 (Nana 나나)

Genre: Romance, Friendship

Rating: G

Length: OneShot

——————————–

“Na, dalam beberapa hari lagi ‘kan Valentine. Kau sudah menentukan cowok yang akan kau beri coklat?” Tanya Lizzy pada teman baiknya yang terlihat sedang membereskan meja. “Aku nggak perlu menentukan, Zy. Mungkin hampir semuanya dapat.” Balas teman Lizzy.

“Kau ini bodoh atau apa? Kau tahu ‘kan, banyak cowok yang naksir kamu diluar sana.” Lizzy menatap temannya malas. Nana –nama teman Lizzy- hanya mengangguk membenarkan. “Aku tahu kok.”

Lizzy memutar matanya, “Lantas, kenapa kau malah seakan memberi mereka harapan, huh? Kau tak menyukai satu dari mereka, ‘kan?” Nana yang sudah selesai membereskan mejanya, berdiri dan menyampirkan tasnya di bahu sebelah kirinya. “Tidak,” Jawabnya singkat. Lizzy menajamkan pandangannya ke Nana.

“Uh, arraseo. Aku tahu kau tak puas dengan jawabanku. Dengar ya, aku hanya ingin membuat mereka bahagia. Aku tak mau ada keirian –yang menyebabkan pertengkaran.” Lizzy mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Melihat Nana yang sudah berjalan keluar kelas, gadis ini menyusul temannya.

Setelah beberapa menit berlalu hening, Lizzy kembali membuka percakapan. “Jadi, kau tak punya orang spesial yang ingin kau beri coklat spesial?” Nana terlihat berfikir sebentar, gadis itu lalu berhenti berjalan secara tiba-tiba –yang membuat Lizzy kaget. ‘Ada. Dia.’ Batin Nana sambil tersenyum. “Uh…, Na?” panggilan Lizzy membangunkan Nana dari lamunan pendeknya.

“Ya? Ehm, uh… A-ada kok.” Jawab Nana dengan nada kurang yakin. Mata Lizzy melebar. “Astaga! Yang benar!? Ya! Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal ini dariku?!” Nana tertawa kecil lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Lizzy. Lizzy mendengus kesal. Sedetik kemudian, air mukanya berubah cerah.

“Ah, kalau begitu.. Kau akan memberi coklat-coklat ‘tidak spesial’-mu pada cowok-cowok yang mengejarmu. Dan kau akan memberi coklat ‘spesial’ pada cowok yang kau sukai. Aku benar, kan?” tutur Lizzy bersemangat. Nana kembali tertawa, “You know me too well, Zy.”

***

Sore hari, angin yang berhawa dingin berhembus perlahan. Membelai tiap benda yang angin itu lewati. Disanalah ia berdiri, gadis yang terlihat tenang di balkon depan kamarnya. Ia menutup mata, menikmati belaian angin sore pada dirinya. Rambutnya yang dibiarkan tergerai terlihat agak berantakan akibat ulah sang angin.

“Na?” Gadis itu masih terlihat menikmati angin sore, sampai sebuah suara menginterupsinya. Kepala orang di seberangnya itu di miringkan ke kanan. “Baru datang?” tanya Nana dan orang di seberangnya itu hanya mengangguk kecil.

“Maaf, membuat kau menunggu terlalu lama.” Orang di seberangnya menunjukkan mimik menyesal. Nana tersenyum lalu menggeleng pelan, “Nggak kok. Santai aja, Hoya.”

Mendengar Nana berkata seperti itu, Hoya hanya bisa tersenyum lebar. Pemuda ini lalu mengeluarkan sebungkus makanan ringan kesukaan mereka berdua. Mata Nana berbinar senang, terlihat sekali kalau gadis ini ingin memakan makanan ringan tersebut. “Mau?” tawar Hoya.

“Memangnya boleh?” Hoya tertawa. “Tentu saja boleh. Aku bukan orang pelit, arro?” Nana hanya mengangkat bahu, tangannya meraih isi dari makanan ringan yang Hoya bawa. Begitu lidahnya sudah merasakan rasa dari makanan ringan Hoya, wajahnya menampakkan senyum lebar. Dua jempolnya langsung terangkat ke hadapan Hoya, menandakan kalau ia memang menyukai makanan itu.

“Aah, benar juga.. Hoya, bantu aku mengerjakan PR. Ini benar-benar sulit.” Suara Nana terdengar merajuk, matanya di kedip-kedipkan, tangannya dikatupkan ke depan. Hoya menghela nafas panjang dan berat. Dia tahu, dirinya pasti tidak bisa menolak permintaan Nana yang di barengi oleh jurus andalan milik gadis itu. Tangan Hoya terulur ke depan, meminta Nana memberikan PRnya. Mengerti kalau Hoya mau membantunya, mata Nana langsung berbinar cerah.

“Gomawo, Wonnie!” seru Nana sebelum masuk ke kamarnya dan mengambil buku PRnya. Hoya hanya bisa terdiam begitu otaknya selesai memproses kata-kata Nana padanya sebelum masuk tadi. ‘Wonnie? Tough I hate it, I miss that nickname.’

Setelah selesai bergulat dengan PR yang Nana bawa, Hoya segera merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. “Hoya, sebentar lagi hari Valentine…” gerakan Hoya berhenti di tengah-tengah begitu dirinya mendengar kata-kata Nana. “…kau sudah siap?” Angin berhembus pelan, seolah membawa pergi pertanyaan yang Nana lontarkan beberapa saat lalu. Hoya masih tak bergeming, ia membeku di tempatnya. Tangannya saja masih berada di atas kepalanya.

“Aku… hanya bersiap-siap menerima pernyataan cinta para gadis.” Jawabnya enteng, tangannya sudah ia turunkan. Nana mendelik, “Micheosseo? Kau tahu ‘kan gadis-gadis itu menyukaimu?! Kenapa seenak jidatmu saja kau tolak mereka?!” Hoya memutar matanya malas, here it comes. Tubuh Hoya condong ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah sahabat terbaik yang ia miliki.

“Uh, Im Jinah.. kukira kau sudah tahu alasannya dari zaman dahulu kala.” Jawab Hoya sarkastik. Nana menglihkan pandangannya, bibirnya mengerucut kesal, dan pipinya di gembungkan. Hoya tahu, jika temannya sudah bersikap demikian, artinya gadis itu sedang kesal. Hoya hanya angkat bahu, dan kembali menarik kepalanya menjauh. Matanya lalu dikatupkan, ia ingin menikmati angin.

“Hei, aku tahu kalau kau tak siap untuk memiliki hubungan. Namun, tak bisakah kau pikirkan perasaan mereka?” Ucap Nana yang sudah kembali mengalihkan wajahnya ke arah Hoya. Mata Hoya membuka sebelah, dan membiarkan sebelahnya lagi terkatup rapat. Alis Hoya mengangkat setelah beberapa detik menatap Nana.

“Oi, kau tak tahu kalau mereka hanya sekedar mengagumiku? Lihat saja gadis yang bernama Jooyeon itu, toh akhirnya dia malah jadian sama Woohyun. See? They are just adoring me, Na. Not love me,” ucapan Hoya berhenti sekilas. “Tapi, jika gadis yang aku suka juga ikut menyatakan perasaannya. Mungkin aku akan menerima dia.” Nana mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menghela nafas panjang.

***

Hari ini hari Minggu, dan besok hari Senin. Bertepatan dengan tanggal 14 Februari. Ya, besok hari Valentine. Semua anak gadis dipastikan sedang repot-repot membuat sekotak coklat untuk diberikan kepada anak lelaki yang mereka suka. Termasuk Nana. Lihat saja dapur kesayangan ibunya, jadi telihat seperti kapal pecah. Nana yang sedang bereksperimen membuat coklat itu terlihat bingung dan gelisah.

“Uuh, coklat-coklat ini bisa membuatku gila! Kenapa gagal terus dari tadi, sih?” keluhnya sambil meremas bungkus coklat batangan yang sudah kosong. Ibu Nana yang baru saja pulang dari mini market dekat rumah mereka, terlihat mengangkat alis. Bau hangus tercium dari arah dapur. Butuh waktu beberapa detik bagi Ibu Nana untuk sadar bahwa dapur tercintanya sedang ada di dalam bahaya.

“DAPURKU?!! Astaga… Jina-ya?” mata Ibu Nana melebar ketika beliau melihat anaknya sedang belepotan coklat dimana-mana. Permukaan apron yang Nana pakai terllihat hampir seluruhnya terlumuri coklat. Ibu Nana tersenyum lembut begitu ingat besok adalah hari yang spesial. “Aigoo, memangnya anak ibu ingin membuat coklat untuk siapa?” Nana merasa pipinya memanas. Ibunya ini memang pintar membuat salting orang lain. Tangan Nana meng-gesture-kan bahwa ia tak memiliki orang yang spesial. Well, setidaknya untuk saat ini Nana sedang tak ingin membicarakan orang yang dia suka. Nana memang punya, namun hanya Raina dan dirinya yang tahu. Namun, Raina saat ini sedang berada di Paris untuk melanjutkan studinya. Alhasil, hanya Nana yang tahu siapa orang yang dia suka. Lizzy saja tak tahu.

Eo-eobseoyo,

“Tak usah malu. Ibu tahu kau masih belum ingin membicarakannya, tapi ceritakan pada ibu jika kau sudah mendapatkan dia, oke?” Ibu Nana mengerlingkan matanya. Yeah, it’s a bit odd. Tapi Nana sudah terbiasa, lagipula ia senang dengan karakter ibunya yang memang agak ke-anakmuda-an. “Jadi, mau ibu bantu, Jinie?” tanpa pikir panjang lagi, Nana langsung mengangguk cepat. Ugh, sudah cukup dia bergelut dengan coklat-coklat itu. Kali ini, Nana memang sangat butuh bantuan ibunya.

***

Ne, Zy-ah. Kau sudah memberikan coklatmu pada anak berdarah dingin itu?” tanya Nana pada keesokan harinya. Lizzy yang saat itu sedang berjalan beriringan bersama Nana langsung bermuka merah dan menggeleng cepat. “Ajikdo. Darimana kau tahu kalau aku menyukai Myungsoo?” Nana tertawa lepas, astaga polos benar temannya yang satu ini. Sudah jelas-jelas Lizzy sering mencuri pandang ke arah teman mereka yang sering di juluki ‘Ice Prince’ itu.

“Tergambar jelas di wajahmu.” Lizzy langsung meraba wajahnya ketika Nana selesai mengucapkan kalimat itu. Raut cemas tergambar di wajah Lizzy, dan Nana sekali lagi ingin tertawa lepas melihat tingkah polos Lizzy. Tapi, Nana rasa saat ini bukan saat yang tepat untuk itu. Karena Myungsoo sedang berjalan ke arahnya –dan Lizzy.

“Yo, Kim.” Sapa Nana santai. Mungkin banyak yang tidak tahu tentang kedekatan Nana dengan ‘Ice Prince’ ini. Namun, perlu diketahui hubungan mereka sudah lebih dari teman baik –sahabat. Meskipun, Nana tetap lebih dekat dengan Hoya dibandingkan dengan Myungsoo. Myungsoo mengangkat sebelah tangannya untuk menanggapi sapaan Nana padanya. Begitu sudah mendekat, Myungsoo baru menyadari kalau Lizzy juga ada di situ.

“Lizzy?” kata-kata Myungsoo langsung membuat Lizzy berdiri tegap. Dengan kaku ia melambaikan tangannya pada Myungso dan bergumam ‘hai’. Myungsoo hanya tertawa dan mengacak pelan rambut Lizzy. “Myung! Jangan lakukan itu! Aish, kau ini benar-benar!” Lizzy merapikan rambutnya yang baru saja Myungsoo acak-acak. Tangan Myungsoo meraih puncak kepala Lizzy dan ikut mengatur ulang rambut gadis itu. Sontak saja pipi Lizzy merona merah. Untung Myungsoo tidak melihatnya karena terlalu sibuk merapikan rambut Lizzy.

“Ehm, mungkin kehadiranku tak berarti lagi disini. Have a good time, lovebirds!” Seru Nana sambil melangkah menjauh. Uuh, mungkin lebih bisa di sebut berlari. Ia baru berhenti ketika jalannya di hadang oleh seorang anak lelaki yang masuk kumpulan orang yang menyukainya. Nana bisa melihat guratan bahagia di wajah laki-laki itu, sebahagia itukah dia jika hanya dapat melihat Nana? Hh, andai saja orang yang Nana suka menunjukkan gesture yang sama.

Annyeong! Ingin pergi kemana?” Nana tersenyum manis dan menunjuk ke atas. Ke tempat dimana kelasnya berada. Dan orang itu hanya mengangguk dan membiarkan Nana lewat. Setelah membungkuk sebentar dia kembali berlari menuju kelasnya.

***

Teeeeeeeeet…

Bel istirahat berbunyi, dan ini saatnya Nana melancarkan aksinya –membagikan coklat-coklat Valentine. Sambil membawa satu kantong besar berisi coklat sudah jadi, dan satu buah kotak sedang berisi coklat buatannya, Nana berjalan dengan hati riang menuju ke orang-orang yang akan ia beri coklat.

“Yang pertama, untuk Ren dan Minwoo di kelas X-1. Lalu, Jungshin dan Jaejin di kelas X-2dan X-3. Setelah itu Youngmin, Minhyun, Kwangmin, Daesung, dan Seungri di kelas XI-2. Kemudian, Jiyong-sunbae, Seunghyun-sunbae, dan Youngbae-sunbae…” gumam Nana sambil terus berjalan dan membagikan coklat-coklatnya. Terus seperti itu sampai coklat di bungkusan besar itu tersisa dua buah, Nana tersenyum riang. “Tinggal dua lagi.. Berarti ini untuk JR-sunbae dan Jeongmin-sunbae.”

Setelah selesai memberi coklat-coklat bertanda pertemanan itu, Nana mengamati kotak yang berisi coklat paling spesial di antara yang lain. Bermaksud memberikannya sekarang, Nana langsung mencari orang yang sudah mencuri hatinya. Nah itu dia, sedang membaca buku di taman sekolah. Nana bisa merasakan debaran jantungnya yang mulai mempercepat lajunya. Matanya ia katupkan erat, lalu dibukanya bersamaan dengan helaan nafas yang panjang.

“Hoya..” panggilnya lembut. Dan orang yang Nana panggil langsung berbalik dan tersenyum lembut. Tangannya menepuk-nepuk bagian kursi yang masih luas di sampingnya. Nana mengerti dan langsung duduk disana. 5 menit berlalu dengan canggung sampai hoya membuka percakapan, dangan berdeham keras. “Uuh, jadi.. apa yang membuatmu datang kesini?” Nana menggeleng dan meletakkan kotaknya di belakang tubuhnya tanpa Hoya ketahui. “Bagaimana.. sejauh ini?” tanya Nana sambil melihat orang-orang yang berlalu di depannya. Ada juga yang sambil menunjuk-nunjuk, mungkin mereka aneh karena Nana dan Hoya memang jarang berinteraksi di sekolah.

Hoya menutup bukunya, “Yah, seperti biasa.. Coklat, pernyataan cinta dan surat cinta. Ugh, lama-lama aku bisa pingsan dengan macam-macam bau yang ikut bersamaan dengan suratnya. Baunya menyengat, Na.” Dan Nana hanya tertawa. Hoya juga ikut tertawa setelah beberapa saat terdiam. “Tapi, gadis yang aku suka belum menyatakan cinta padaku. Apa dia tak menyukaiku ya, Na?” Hoya bertanya dengan suara sedih sesaat setelah dirinya bisa mengontrol laju tawanya.

Nana terperanjat, sinar matanya meredup. Inikah akhir? Apakah ia memang tak memiliki kesempatan bersama Hoya? Merasa air matanya akan keluar beberapa saat lagi, Nana mengadahkan kepalanya ke langit. Menahan air mata yang sudah mendesak keluar. Dengan gerakan pelan, tangannya menarik kotak yang selama ini bersembunyi di balik tubuhnya dan menyerahkannya pada Hoya.

Awalnya Hoya terlihat kebingungan, namun kemudian pemuda itu tersenyum dan mengacak pelan rambut Nana. “Gomawo.” Nana menggeleng keras, membuat Hoya terkejut. “Kau tidak menegerti maksudku, Lee Howon. Aku.. memberikan coklat ini.. Karena.. karena.. Ugh! Maukah kau membukanya terlebih dahulu?!” desak Nana sambil menunjuk kotak yang sekarang sedang berada di genggaman Hoya.

Hoya membuka kotak itu perlahan, dan langsung menahan nafasnya. Matanya dengan jeli memperhatikan coklat-coklat yang tersusun dan membentuk suatu kata di bagian tengahnya.

Saranghae.

Itu tulisannya. T-tunggu dulu..

“Na? Kau.. menyukaiku?” Nana yang sudah merasa pipinya memanas langsung mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Matanya terlihat sedang mencari objek yang bisa ia gunakan untuk mengalihkan perhatiannya dari Hoya yang mulai membentuk senyum. Tak lama, ia bisa merasakan sebuah lengan besar memeluk tubuhnya. Bau ini.. Hoya.

Nado saranghae,” mata Nana langsung melebar begitu mendengar dua kata yang dari dulu sudah ia inginkan keluar dari mulut Hoya. Ia merasa pelukan Hoya semakin erat saja, kali ini Nana butuh udara. “Hoya.. Udara..” dengan suara ‘OH!’ yang luamayan keras Hoya melepaskan pelukannya dari Nana. Sorot mata Hoya memperlihatkan penyesalan, Nana yang baru saja selesai mengambil udara langsung tertawa lepas. Hoya mengerucutan bibirnya dan melipat tangannya di depan dada.

Aish, kau ini benar-benar menyebalkan!” seru Hoya. Suara tawa Nana mengecil dan lalu hilang sama sekali. Matanya menatap lembut laki-laki yang sudah menyatakan cinta kepadanya. Nana memperlihatkan senyum manisnya dan itu membuat Hoya menggaruk tengkuknya dengan kikuk. Tawa kecil terlepas dari mulut Nana. Hoya juga ikut tertawa –meskipun dengan grogi.

“Hei, sekarang kita ini sudah menjadi pasangan, kan?” tanya Nana sambil menyandarkan kepalanya di bahu Hoya. Merasa bahu Hoya terangkat, Nana langsung memukul pelan lengan Hoya. Suara keluh kesakitan terdengar, dan Nana hanya mendengus. “Apa maksudmu mengangkat bahu seperti itu? Kau masih belum siap, huh?” Nana bertanya kesal. Hoya tertawa kecil.

“Kau ini.. Aku hanya bercanda,” Nana kembali mendengus, kali ini lebih keras dari pada yang sebelumnya. Hoya menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan keras. “Tentu saja.. saat ini kita adalah sepasang kekasih. HoNa couple!!” Hoya berteriak di dua kata terakhir. Nana langsung melebarkan matanya, tangannya dengan otomatis menutup mulut Hoya. Tatapan matanya membunuh, Hoya bisa lihat itu. Dengan mengangguk keras, akhirnya tangan Nana menyingkir dari mulutnya.

“Howon! J-jangan keras-keras! Kau ini berisik!” Hoya tersenyum manis.

Aigoo, tapi kau tetap menyukaiku, kan?”

“A-apa? Heii! Te-tentu saja!”

“Hehehe, arraseo. Nado saranghae.

“Aku tahu itu..”

-END-

A/N: Yup, GJ ending ya? Gue tau kok-___-“V.. Sebenernya ni FF untuk dikirim ke admin sebuah WP. Tapi, gue pikir gue juga mau nge-post disin. Sorry kalo jelek dan gasuka pairnya. But.. I LOVE THEM SOO MUCH!!! Feel free to laeve a comment.. 😀 Gomawo..

Advertisements

5 thoughts on “The Chocolate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s