Beginning

Minyoung Lee present:

B cover

“Beginning”

A Fanfic

Cast:

–  Byun Baekhyun

–  OC –you

–  The rest of EXO-K members

Genre: Romance, Fluff

Rating: G –of course, what do you want?

Length: Oneshoot

P.S: Nama OC itu bisa kalian ubah nama kalian sendiri. Gue ngasih nama Korea gue disitu karena emang gue udah nggak nemu nama lagi-___-. Sowwy ><”. Happy read’-‘)/

.

.

Ya! Do Kyungsoo! Aku bisa melihat kesalahanmu sekarang! Tanganmu kurang direntangkan! Jangan ragu untuk menari!” Tegur seorang pelatih yang menangani grup kami. Matanya terlihat lelah, kesal dan kecewa. Yang tadi ia marahi adalah teman satu grupku, Do Kyungsoo. Jongin yang berada di sampingnya hanya tersenyum dan berbisik ‘Aku akan mengajarimu nanti, hyung.’ Di telinga Kyungsoo. Kyungsoo hanya menanggapi Jongin dengan senyuman kikuk.

“Hh, mungkin kalian lelah. Baiklah! Latihan hari ini selesai, kita lanjutkan lusa!” ekspresi kami beragam ketika Kim Ssaem berkata begitu. Ada yang terkejut, senang, ada yang melotot, dan ada yang terlihat sedikit sedih. Joonmyun hyung yang menyadari hal itu langsung angkat bicara –uh, lagipula dia seorang Leader. “Ssaem, lusa? Apa tidak salah?”

“Tidak aku tidak salah bicara. Kuputuskan untuk memberi kalian sehari untuk melepaskan penat. Setelah ini aku akan jarang memberi Free Day. Arra?!” kami meangguk serempak lalu membungkuk sambil mengucapkan terima kasih kepada Ssaem yang mulai berjalan keluar dari ruang latihan. Ketika Ssaem sudah meninggalkan ruangan aku langsung mengahmpirinya dengan dua buah botol air mineral dingin.

“Hei,” aku menegurnya pelan. Matanya yang bulat memandangku polos, sejenak aku merasa takjub dengan mata itu. “Minumlah.” Lanjutku sambil melemparkan botol air meneral dingin tadi. Dia menerimanya dengan antusias, setelah menggumamkan terima kasih ia meneguk cepat air di dalam botol itu. Mungkin dia kehausan, lihat saja. Botol yang tadinya penuh, langsung tandas menjadi ¼-nya. Aigoo

“Keh, kau segitu hausnya?” aku berujar pelan sambil terus memperhatikannya. Dia mengangguk cepat, dadanya masih naik-turun. “Ya ampun, Do Kyungsoo.” Ucapku sambil menepuk-nepuk punggungnya. Kyungsoo tertawa kecil. Tawanya itu terdengar terputus-putus. Paru-parunya yang sedang membutuhkan banyak oksigen membuat Kyungsoo terkapar di lantai ruang latihan kami. “Aku benar-benar lelah, hyung. Gerakankku masih kurang maksimal. Ssaem sampai terlihat kecewa seperti itu.” Gumamnya sambil menutup kedua matanya. Dan aku hanya mengangguk mengerti.

Hn, Kyungsoo-ya.” Kyungsoo langsung menolehkan kepalanya ke arahku. “Ada apa, hyung?” aku beringsut mendekatinya. Kyungsoo melemparkan tatapan aneh padaku, ia kemudian bangkit dan duduk dengan kaki selonjor –hei, menekuk kaki setelah olah raga itu tak baik-. Aku mendekatkan mulutku ke telinganya.

“Masakkan aku makanan jika sudah sampai di dorm. Baegopa.” Tawa Kyungsoo meledak, dan itu menyebabkan semua memberku melihat ke arah kami. Rata-rata dari mereka memberi tatapan kalian-kenapa-sih-? Aku hanya mengangkat bahu sebagai respon. Maknae Sehun mengangkat curiga alisnya padaku, padahal yang lain sudah sibuk lagi dengan kegiatan masing-masing. Setelah memberinya deathglare andalanku, Sehun baru berhenti menatapku dengan tatapannya yang aneh. Ia kemudian ikut bergabung dengan Jongin dan Chanyeol yang sedang bercanda –entahlah apa itu.

“Astaga, hyung! Ku kira ada apa! Mukamu serius sekali!” ucap Kyungsoo setelah tawa dadakannya –dan hanya tuhan yang tahu berapa lama- berhenti. Aku menatapnya dingin. Kyungsoo hanya tersenyum dan menepuk bahuku pelan, sebelum berjalan ke arah tasnya. Hah, dia memang member yang paling tidak mempan dengan tatapan dinginku ataupun deathglare-ku. Padahal Joomyun hyung saja takut *eh. “Iya, aku masakkan. Tenang saja, hyung.” Tuturnya sambil mengelap keringatnya.

Arraseo.” Kataku pendek dan segera bangkit mengambil handuk di tasku. Setelah mengelap badanku yang terbalut keringat, aku membereskan isi tas ku yang sudah kekuar kemana-mana. Pasti kerjaan Chanyeol, anak itu memang suka membongkar isi tasku. Ketika aku tanya kenapa dia sering melakukannya, dengan enteng Chanyeol berkata ‘Aku takut kau membawa makanan enak dan tidak membaginya padaku.’ Aish! Mengingatnya saja membuatku ingin menjitak kepalanya –kalau bisa, sih. Dia memang suka berbicara dengan asal. Kulirik Happy Virus-nya EXO itu, dia masih sedang tertawa dan bercanda dengan Jongin, Sehun dan Joonmyun hyung yang ikut bergabung.

Eodigayo?” tiba-tiba saja suara Jongin muncul dari arah kanan. Aku hanya tersenyum dan berkata, “Hanya ingin keluar.” Dan Jongin menganggukkan kepalanya. Aku menagmbil jaketku dan memakainya –tidak mengancingnya. “Jangan jauh-jauh, hyung.” Aku langsung memicingkan mataku ke arah Jongin. Tanganku mendekati kepalanya, lalu…

Tak

Kujitak kepala Jongin, aku tersenyum puas dalam hati. Anak itu hanya meringis kesakitan. “Ya! Kim Jongin! Kau pikir aku anak kecil yang mudah tersesat, huh?!” aku memelototi Jongin. Sambil mengerucutkan bibirnya, Jongin berjalan menuju Joonmyun hyung dan mengadukan perbuatanku kepadanya dengan berbisik ke telinga leader kami –urgh, aku masih bisa mendengarnya dari jarak sejauh ini. ‘Tsk, sangat tidak berbakat.’ Sindirku dalam hati. Aku lalu berjalan menuju pintu. Membukanya dan berjalan ke luar ruang latihan member EXO. Taman Academy S.M, aku datang!

***

Setelah sampai di taman dekat gedung Academy S.M, aku menghirup udara yang tersa sejuk. Aku baru sadar kalau sekarang sudah mulai masuk musim gugur. Jadwal padat EXO memang membuatku kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Beruntung aku sempat memakai jaket. Aku berusaha menghangatkan diri dengan merapatkan jaketku –heck, aku hanya memakai tanktop saat latihan tadi. Meskipun udara disini semakin terasa menusuk, aku tetap manyukainya. Lagipula, musim gugur adalah musim faforitku. Aku merasakan kehadiran seseorang di sampingku, dan aku menoleh ke arah itu. Mendapati seorang gadis memakai syal rajut bergambar kelinci putih, baju stripe hitam-putih lengan panjang, jaket yang cukup tebal, dan celana olah raga panjang berwarna hitam. Rambutnya yang berwarna hitam legam di ikat dengan model messy bun. Gadis ini terlihat sangat menikmati angin awal musim gugur. Matanya terpejam, tangannya di katupkan di depan, dan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tanpa sadar, aku terus memperhatikannya. Seakan tertarik kedalam gravitasinya.

“Oh?! Annyeonghaseyo.” Sapanya pelan sebelum membungkuk ketika manik coklatnya melihatku. Aku balas membungkuk dan menyapanya. “Kau…, seorang trainee?” aku bertanya pelan, dan dia mengangguk cepat sambil tersenyum. Senyumannya membuat jantungku serasa tak berdetak selama sedetik. Manis.

“Apa yang sedang anda lakukan disini, Baekhyun-sunbaenim?” aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Gadis itu sedang memiringkan kepalanya ke arah kanan. Benar-benar imut. “Ah, aku hanya ingin menghirup udara segar. Di ruang latihan benar-benar membosankan.” Dia mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dimataku gerakannya barusan terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Secara tidak langsung dia sedang mengeluarkan aegyo, kan? Beberapa menit kemudian kami lalui dengan keheningan. Aku mulai merasa canggung. Diam-diam aku mengamati garis wajahnya. Sepertinya dia bukan dari Korea.

“Memang bukan, sunbaenim.” Dia berkata, sedangkan aku melebarkan mata. Tanpa sadar aku sudah mengucapkannya, ya? Karena sudar terlanjur, aku melanjutkan percakapan ini. Lagipula, aku tak mau lagi suasana disini jadi canggung. “Uh, lalu kau berasal darimana?” tanyaku sambil kembali memperhatikan wajahnya.

“Indonesia.” Balasnya pendek sambil tersenyum lembut.

“Benarkah? Tapi, bahasa Koreamu patut di ancungi jempol!” aku memujinya, dan dia hanya tertawa kecil. Bahasa Koreanya memang nyaris sempurna, tanpa cela. Sekilas sebelum aku tahu dia berasal dari Indonesia, aku berfikir dia dari Busan. Habisnya, dia sempat berbicara dengan aksen Busan –meskipun itu hanya sebentar.

“Terima kasih pujiannya, sunbaenim.” Aku mengangguk kecil. “Sudah berapa lama tinggal di Korea?” dia tampak berfirik keras.

“Sekarang bulan November, ya? Kalau begitu sudah 11 bulan.” Dia menjelaskan. Aku mengangkat sebelah alisku, “11 bulan disini, dan kau bahkan sudah tahu aksen Busan?!” gadis itu tertawa. Suara tawanya terdengar lembut. Dan aku menyukainya.

“Saya memang sudah mempelajari Korea sejak masih di Indonesia, sunbaenim. Aksen Busan itu saya pelajari setelah berada di Korea.”

“Dan aku melihat dampak positifnya sekarang.” Kami tertawa bersama. Ah, keputusanku menghirup udara segar memang tidak salah. “Sejak kapan menjadi trainee disini?”

“11 bulan. Saya datang ke Korea karena memang di panggil S.M untuk menjadi trainee disini.” Aku mengangguk mengerti. “Kalau kau akhirnya masuk dalam suatu grup, kau ingin menjadi bagian apa?” dia menoleh kearahku dengan tatapan innocent. Mungkin dia tak mengerti, ya? Tapi, sebelum aku bisa mengeluarkan suara untuk menjelaskan. Dia sudah menyela.

“Emm, saya juga belum tahu, sunbaenim. Mungkin di bagian…, vokal? Karena Choi Ssaem bilang, beliau menyukai vokalku.” Aku menjentikkan jariku senang. “Kalau begitu kau bisa belajar padaku! Yaah, untuk sekedar tambah-tambah pelajaran vokal dari Choi Ssaem.” Dia tertawa kecil.

“Bolehkah?” aku mengangguk mendengar pertanyaannya. Aku belajar, kalau dia di terima menjadi trainee disini karena vokal dan dance-nya yang menrik perhatian para trainer. Aku terkejut ketika tahu bahwa dia adalah seorang maknae dari kumpulan trainee yang dibina Choi Ssaem. Perbedaan umurnya juga cukup jauh dibanding yang lain. Sekitar 4-5 tahun. Daebak!

“Oh! Maknae-ya! Ayo kembali ke ruang latihan. Ssaem menyuruhku untuk memanggilmu.” Tiba-tiba sebuah suara memutus jalan pembicaraanku dengannya. Seorang laki-laki, bertubuh tinggi –sekitar 170-an-. Laki-laki itu lalu membungkuk ke arahku, dan aku membalasnya. Ergh, entah kenapa aku tak suka dia memanggil gadis ini. Dengan tatapan menyesal gadis itu berpamitan padaku, “Maaf sun-“

Oppa.”

Ne?” aku tersenyum. “Panggil aku Oppa saja. Dan jangan sungkan berbicara banmal padaku.”

Gadis manis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. “Ah, kalau untuk menggunakan banmal pada anda, saya tidak bisa menggunakannya. Akan terasa aneh.” Dia menolak. Dan sekali lagi, temannya yang memanggil tadi kembali berteriak. Gadis itu juga ikut berteriak untuk menjawabnya. “Arraseoyo! Tunggu sebentar, Oppa!”

Aku menggeram kesal, di bahkan sudah memanggil orang itu ‘Oppa’. Aku? “Emm, kalau yang satunya? Panggil aku Oppa saja. Ya?” aku memintanya dengan mata yang kubuat berbinar –sangat bukan diriku yang sebenarnya. Dia tertawa kecil, “Baiklah. Oppa. Byun Baekhyun Oppa.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku tersenyum puas.

MAKNAE!!!”

ARRASEOYO!” dia membungkuk sebentar padaku sebelum berlari menjauh –mendekati laki-laki itu dan kemudian mendorong punggung laki-laki itu masuk kembali ke Academy S.M. Aku menggelengkan kepala begitu teringat sesuatu. Babo! Kenapa tidak tanya namanya?!

“Namamu siapa!?” teriakku padanya. Dia berhenti sebentar sebelum menjawab, “Minyoung. Lee Minyoung imnida!!” dan kembali mendorong laki-laki tadi.

Aku mengangguk dan tersenyum lebar. Tanganku bergerak menuju dimana jantungku berada, menyentuhnya. Debarannya masih belum normal, tapi sudah lebih baik daripada saat aku bersama gadis manis itu. Uuh, apa ini? Aku juga kurang tahu. Sambil menutup mata, aku terus berdiri disana. Sampai suara Kyungsoo memasuki indra pendengaranku. Kepalaku menoleh ke asal suara.

Hyung! Ayo pulang! Sedang apa kau disana?” serunya nyaring, aku hanya mengangguk cepat dan menghampiri Kyungsoo yang rela menungguku dan membawakan tasku. Ketika aku sudah berada di samping Kyungsoo, aku mengambil tasku yang berada di bahu kiri Kyungsoo. Sedangkan ibu EXO-K ini memandangiku dengan aneh.

“Apa?” dia menggeleng mendengar pertanyaanku. “Kau terlihat bahagia, hyung.” Ucapnya jujur. Bibirku langsung membentuk sebuah senyuman lebar, tanganku menepuk bahu Kyungsoo –sedikit keras. Mata Kyungsoo yang awalnya memang sudah lebar, menjadi tambah lebar lagi. Matanya seakan memberitahuku bahwa tepukanku itu sakit. Namun aku tak menghiraukannya dan memberitahunya pertemuanku dengan gadis itu. Kyungsoo membiarkanku bercerita sepanjang jalan menuju van kami, dia diam dan mendengarkan dengan baik. Di akhir ceritaku –saat itu aku dan Kyungsoo sudah berada di dalam van EXO-K- Kyungsoo tersenyum lalu berkata…

“Kau menyukainya, hyung.” Dan aku hanya bisa bungkam.

-The End-

A/N: Another GJ ending from me *nangis dramatis. Gue beneran nggak bisa bikin ending yang oke -____-“V. Ngegantung ya? Sengaja :P. Feel free to leave a comment. Kalo minta After Story pasti di postnya bakalan lama, karena banyak peristiwa yang menghambat. Paling utama, My Beloved Grandmother was passing away. Jadi, AS insyaallah gue ketikin tapi bakalan lama –itupun kalo kalian pada mau dibikinin AS. Oh, With Him-nya lagi dalam masa pengetikan.. Jadi, mohon ditunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s