With Him: Part 6

Minyoung Lee Present:

WH cover 3

“With Him”

A Fanfiction

Genre : Friendship, Romance, Hurt/Comfort

Rating : PG-13

Length : MultiChapter

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Support Cast :

  • Seo Joohyun
  • Kim Ryeowook
  • Son Naeun
  • Lee Gikwang
 A/N: So, this is the part 6. Woohooo *tiup terompet. Aku udah nggk sabar buat nge-post part ini! Maaf, kalo kependekan dan ngebosenin. Aku akan memberi beberapa background music di beberapa bagian, kuharap kalian tidak terganggu. Background music itu hanya saran, kalau tidak memutar lagu itu juga tak apa, namun kurasa feelnya lebih keluar nyehehe #sok. Hm, kurasa part selanjutnya itu part terakhir. Oh, Happy New Year, guys!! Aku ucapin sekarang ajah ya. Kekek~.
Well, happy read -i guess-, knightdeul!

———————————————————————————————————

Sebelumnya~

Drap.. Drap.. Drap..

Suara langkahan kaki yang terlihat tergesa itu menghidupkan suasana lorong rumah sakit yang tadinya sepi, hening. Dua orang manusia itu dengan teliti memeriksa setiap nomer yang ada di tiap-tiap pintu ruangan pasien. Salah satu diantaranya terlihat menahan air mata, dan satunya lagi terlihat kelelahan.

182..

183..

184..!!

——————————————————–

“Ah! Ini ruangannya!” pekik salah seorang dari dua orang tadi. Dengan tangan bergetar, ia memutar knob pintu ruangan bernomor 184 itu. Dalam hati, ia berharap orang yang di dalam sana baik-baik saja. Karena orang didepannya tak kunjung membuka pintu, orang yang satu lagi langsung mendorong pintu itu.

“Kyuhyun-ssi! Ini rumah sakit, kau tahu?” Kyuhyun hanya mengangkat bahu yang langsung mendapat tatapan membunuh dari gadis di depannya –Sooyoung. “Aku tahu. Kau pikir aku siapa, huh?!” Sooyoung hanya melemparkan tatapan mautnya lagi. Dan Kyuhyun langsung mendorong punggung gadis itu masuk ke dalam ruangan itu.

Di dalam, terlihat pemuda yang terus menemani gadis yang tertidur di ranjang. Sooyoung menahan nafasnya, matanya sudah siap untuk mengeluarkan air mata lagi. “Naeun-ah..” bisiknya pelan. Pemuda yang dari tadi menunduk itu langsung mengangkat wajahnya.

“Sooyoungie..” pemuda yang ternyata adalah Lee Gikwang itu berkata lirih. Sooyoung menghampiri sisi ranjang yang berlawanan dengan sisi yang Gikwang tempati. Sedangkan Kyuhyun hanya berdiri di dekat pintu, melipat tangannya di depan dada.

“Gikwang-ah, dia kenapa? Son Naeun kenapa?!!” Buru-buru Kyuhyun menghampiri Sooyoung dan mengelus punggung gadis itu perlahan. “Hey, sabarlah.” Nasihat Kyuhyun. Sooyoung langsung memeluk pemuda yang disampingnya. Gikwang mematung, rahangnya mengeras ‘Siapa orang ini?’ batinnya kesal. Tanpa sadar, pemuda ini mengepalkan telapak tangannya keras.

“Ketika aku ke rumahmu, aku bertemu dengan gadis ini. Dia yang membukakan gerbang depan rumahmu, Youngie. Namun, ketika aku sedang berbincang dengan dia,” Gikwang menunjuk Naeun yang masih belum sadarkan diri. “Anak ini langsung pingsan. Dengan panik, aku membawanya ke sini.” Terang Gikwang lagi. Sooyoung mengangguk pelan, gadis ini kemudian mengucapkan terima kasih pada Gikwang.

Setelah hampir 20 menit disana, Gikwang mendapat telpon dari eomma-nya. Beliau menyuruh agar Gikwang cepat pulang. Dengan wajah malas Gikwang meng-iya-kan perkataan eomma-nya. Melihat kelakuan Gikwang, Kyuhyun serasa ingin menghajarnya. Berani sekali dia meremehkan ibundanya, huh?! Belum merasakan ada di posisiku kau! Seru Kyuhyun dalam hati.

“Mm, Sooyoungie aku pulang ya? Eomma menelpon, katanya dia tak ada teman di rumah.” Pamit Gikwang pada Sooyoung yang masih menatap Naeun dengan tatapan penuh kasih sayang. Tanpa menoleh, Sooyoung mengangguk mendengar pamitan Gikwang. “Annyeong.” Ucapnya pelan sebelum Gikwang benar-benar keluar dari ruangan pengap berbau obat tersebut. Dan Gikwang hanya meresponnya dengan senyuman kecil nyaris tak terlihat mata.

Gikwang sudah keluar dari ruangan itu, menyisakan Kyuhyun dan Sooyoung yang masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kyuhyun dengan ponselnya dan Sooyoung yang masih berada di samping Naeun, menggenggam tangan gadis yang sedang tidak sadar diri itu.

Malhaebwayo.” Kyuhyun mengangkat kemudian memiringkan kepalanya. Pemuda ini menatap pundak Sooyoung di depannya dengan tatapan tidak mengerti. Tepat ketika Kyuhyun akan membuka suara, Sooyoung sudah langsung menyerobot. “Apa alasanmu tinggal di rumahku? Apa masalahmu?” mata Kyuhyun melebar sedikit. Keringat langsung mengguyur tubunya, tangannya mencengkram ponselnya erat. Ia tahu saat ini pasti datang, Sooyoung pasti akan bertanya tentang asal-usulnya.

Karena tidak mendapat jawaban, Sooyoung memutar badannya menghadap Kyuhyun yang masih mencengkram ponselnya. Ketika mata Kyuhyun menatap mata Sooyoung, gadis ini terkejut setengah mati. Matanya terlihat sayu, merah, dan… berair. “Kyuhyun-ssi, maaf. Aku hanya ingin tahu.” Lirih Sooyoung sesaat setelah memandang mata Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng pelan, “Tidak, jangan meminta maaf. Kau ingin mendengarnya, ya?” Sooyoung menganggukan kepalanya ragu. Kalau dibilang tak penasaran, bohong namanya. Namun, hatinya merasa tidak enak mendengar nada seperti itu yang keluar dari mulut Kyuhyun. Ia memang sudah memikirkan masalah ini dari pertama Kyuhyun tinggal di rumahnya. Tapi karena Sooyoung agak pelupa dan banyak tugas kantornya yang belum selesai, ia tak pernah menanyakannya pada Kyuhyun. Kali ini, karena ada kesempatan ia menanyakannya. Sungguh! Ia tak pernah menyangka kalau Kyuhyun akan memberi respon seperti ini. Rasa bersalah dan tak enak hati menyerbunya dalam seketika.

“Sebenarnya..” Sooyoung mengangkat kepalanya yang sempat terunduk ketika memikirkan Kyuhyun dan sikapnya tadi. “Aku… Eomma, mengusirku.” Mata Sooyoung melebar. Apa katanya? Astaga, pasti ada masalah besar di keluarganya. Jangan-jangan..

“Dia menyuruhku menikah dengan orang yang bahkan baru kukenal selama seminggu. Dan aku tak punya rasa apapun pada orang itu. Ia bilang tak ingin melihatku lagi, karena Eomma tak senang dengan kelakuanku yang bersikap dingin pada ‘calon istri’ku.” Lanjut Kyuhyun lagi. BINGO! Sooyoung berseru dalam hatinya. Memang benar-benar klise kisah Kyuhyun, seperti di sinetron-sinetron. Ternyata, masih ada orang tua yang menjodohkan anaknya. Cerita Siti Nurbaya memang belum lepas dari kisah manusia zaman sekarang. Sooyoung hanya tak habis pikir, apa yang para orang tua pikirkan saat menjodohkan anaknya? Sebenarnya ada beberapa alasan. Satu, karena hutang yang melilit lalu harus menyerahkan anaknya pada orang lain, sebagai imbalan hutangnya di lunasi. Dua, karena anaknya tak kunjung menikah. Lalu apa? Kalau misalnya si anak memang belum menemukan belahan jiwanya?

“Emm, lalu?” Sooyoung bertanya ragu. Melihat Kyuhyun yang terus terdiam, padahal Sooyoung merasa cerita Kyuhyun belum selesai. Mengambang begitu saja di udara. Beberapa menit berlalu dengan Kyuhyun yang tetap membungkam mulutnya. Sooyoung mengerti bagaimana perasaan Kyuhyun. Pemuda itu mungkin masih belum siap menceritakan kelanjutannya.

“Lalu…, lalu… Ugh! Maaf, aku masih belum bisa menyeritakan semuanya!” Sooyoung hanya tersenyum lembut dan bangkit dari tempat duduknya, gadis ini berjalan menuju sofa dimana Kyuhyun duduk. Tangan Sooyoung mendarat dipunggung Kyuhyun lalu mengelus-elus punggung pemuda itu lembut. Kyuhyun hanya diam, ia benar-benar menyukai perlakuan Sooyoung pada dirinya. Semua yang Sooyoung lakukan, semua yang Sooyoung katakan, membuat dirinya merasa seakan ada orang yang memang menyanginya, ada orang yang peduli padanya. Detik ini, Kyuhyun yakin ia memiliki perasaan lebih pada gadis disampingnya.

“Kyuhyun-ssi, kau tahu?”

“Apa?”

“Kurasa, ibu yang mengirimkan kau padaku. Agar aku tak merasa kesepian lagi, agar ada orang yang mau menolongku. Terima kasih.” Kyuhyun memandang Sooyoung dengan ekspresi yang tak dapat dibaca. Senang, mungkin itu yang paling tepat. Pemuda ini lantas tersenyum ke arah Sooyoung yang ternyata sedang memandang dirinya juga. “Aku juga. Terima kasih, Sooyoung-ssi.

***

Beberapa minggu kemudian, Naeun sudah keluar dari Rumah Sakit. Dia hanya memiliki Anemia yang bisa dibilang cukup parah –untung saja tidak sampai Anemia kronis. Setelah di ceramahi mati-matian oleh Sooyoung tentang tidak bergizinya makanan yang Naeun makan selama di Jepang dan bla-bla-bla –Naeun bahkan tak mengingat selebihnya- gadis itu duduk termenung. Siapa orang yang membawanya ke Rumah Sakit? Laki-laki. Naeun yakin itu. Namun gara-gara Anemia yang membuat matanya jadi agak berkunang-kunang, Naeun tak bisa melihat jelas wajah orang itu. Suaranya entah kenapa mengingatkan Naeun pada seseorang.

Yamamoto Hiroki.

‘Eh? Kenapa tiba-tiba muncul?’ pikir Naeun sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin Hiroki berada di Korea saat ini. Jujur saja, Naeun merindukan pemuda itu. Tata cara bicaranya sopan, dandanannya rapi –berbeda dengan remaja zaman sekarang yang berdandan aneh, dia pintar, baik, dan  menghargai wanita. Saat pertama kali menapaki Jepang, Naeun yang kebingungan mencari suatu alamat bertemu dengan Hiroki. Pemuda itu lantas membantu Naeun. Sejak saat itu, Naeun dan Hiroki menjadi dekat. 6 bulan bersahabat dengan Hiroki, Naeun merasa janggal dengan dirinya sendiri. Jantungnya jadi sering bertalu-talu keras, tangannya berkeringat dingin, dan pipinya selalu memanas jika Hiroki di dekatnya. Naeun sadar itu buka rasa suka sebatas sahabat saja. Itu.. Cinta.

“Hei.” Sapaan lembut membuyarkan lamunan Naeun. Didapatinya Kyuhyun sedang berjongkok di hadapannya. Naeun mengangkat alisnya bingung, “Sedang apa kau disitu, Kyuhyun-ssi?” Kyuhyun tersenyum lebar, ia kemudian menyodorkan semangkok bubur buatan Sooyoung yang nampak masih mengepulkan asap. Naeun menatap bubur itu tak berselera.

“Makanlah. Kasihan sepupumu yang membuatkannya.” Tegur Kyuhyun setelah melihat Naeun yang terlihat tidak suka dengan buburnya. Ya, hubungan Naeun dan Kyuhyun sudah membaik. Terima kasih pada Sooyoung dan penjelasannya. “Shireoyo.” Tolak Naeun ketus. Kyuhyun mendengus kesal, ‘Gadis ini memang keras kepala.’ Pikirnya. Tiba-tiba saja, sebuah seringai kecil dan tak kasat mata muncul di wajah tampan Kyuhyun.

“Apakah aku harus memanggil Yamamoto Hiroki untuk menyuapimu, hm?” ucap Kyuhyun. Naeun terlihat sangat kaget, matanya melebar sempurna. Pipinya juga terlihat memerah. Kyuhyun yang mengetahui itu hanya bisa tersenyum dalam batin, dia-diam ia mengepalkan sebelah tangannya senang. “Eeeh? Kau.. Kenapa.. Bagaimana..?” Naeun berkata tak jelas. Dan itu makin membuat Kyuhyun ingin mengeluarkan tawa sepuas-puasnya. Sooyoung yang baru selesai menyiapkan makanan untuknya dan Kyuhyun berjalan menuju kearah dimana Kyuhyun dan sepupunya itu sedang berbincang.

“Sedang membicarakan apa sih? Sepertinya sangat menarik.” Ucap Sooyoung begitu tangannya menepuk bahu sebelah kanan Kyuhyun, dan menumpukan tubuhnya disitu. Naeun menggeleng perlahan, “B-bukan apa-apa, Eonnie.” Sooyoung tahu ada yang Naeun sembunyikan, tapi ia tak akan memaksa gadis itu bercerita. Ketika matanya beralih memandang Kyuhyun, alisnya berkerut.

Buk

Tangan Sooyoung memukul punggung Kyuhyun –tidak keras, namun bisa membuat Kyuhyun meringis kesakitan. “Aduh, apa sih?” Sooyoung menajamkan pandangannya, Kyuhyun hanya memasang wajah innocent –dan Sooyoung benci itu. “Kenapa senyum-senyum nggak jelas gitu? Aneh.” Cibir Sooyoung. Naeun tertawa keras, tangannya bertepuk-tepuk ria. Kyuhyun menghela nafas berat, ‘Aigoo, mudah-mudahan saja aku di beri kekuatan untuk hidup bersama dua setan ini.’ Hoi, kau juga setan, Cho!

Bimilida.. Kau tak boleh tahu.” Kyuhyun kembali mengeluarkan smirk andalannya. Sooyoung mengangkat kedua tangannya menyerah. Astaga, untuk apa berdebat dengan orang macam Kyuhyun? Sooyoung tahu, pada akhirnya dia yang akan kalah. Ia kemudian berjalan menuju ke dapur, dia masih punya masakan yang dimasak. “Ne, Sooyoungie..” kakinya berhenti melangkah ketika suara Kyuhyun masuk ke indra pendengarannya. ‘Sooyoungie’? Benar-benar bukan Kyuhyun.

“Apa?” Sooyoung memilih untuk tidak menanggapi panggilan baru Kyuhyun untuknya. Kyuhyun tersenyum lebar sambil bangkit dan berjalan ke arah Sooyoung. Mata Sooyoung melebar, jantungnya sudah mulai tak karuan. Alis Kyuhyun mengernyit perlahan, “Kenapa jadi berjalan mudur seperti itu?” Sooyoung menggeleng pelan.

“Oh, yasudah. Aku ingin membantumu memasak. Kajja.” Ucap Kyuhyun sambil menarik tangan Sooyoung. Sooyoung menoleh ke arah Naeun yang sekarang sudah mulai tersenyum lebar, mata Sooyoung menatap tajam sepupunya itu –mengisyaratkan agar Naeun segera memakan bubur yang Sooyoung buatkan. Dan Naeun hanya mengangguk sebagai balasan. Sooyoung menghela nafas berulang kali ketika Kyuhyun mendorong punggungnya untuk kembali memasak.

***

(BackGround Music: Boyfriend – Janus; kupikir ini cukup nyambung. Lagipula ketika buat bagian ini, aku juga lagi dengerin lagu itu.)

“Joohyun-ah, kau tak harus melaporkan hal ini pada ibu Kyuhyun!” Suara Ryeowook terdengar naik 1 oktaf. Seohyun melempari Ryeowook dengan tatapan tajam nan miris. Kali ini ia sedang bersiteru dengan Ryeowook di sebuah taman kota. Ia sedang memberi tahu Ryeowook tentang rencananya memberi tahu ibu Kyuhyun dimana Kyuhyun tinggal, tentu saja Ryeowook tidak setuju dengan hal itu. Ryeowook pikir itu akan menambah konflik antara Kyuhyun dan ibunya, namun Seohyun berfikir itu akan membuat dirinya dan Kyuhyun di tungkan dan di nikahkan lebih cepat lagi.

Oppa! Sudah cukup aku disakiti oleh Kyuhyun oppa! Aku juga ingin bahagia!” mata Ryeowook terlihat terluka, persis seperti apa yang dialami hatinya. Ia sudah lama menyukai Seohyun –sejak pertama ia bertemu dengannya. Dan sekarang ia menyesal sudah memendam semua perasaannya, ia sudah terlambat. Hati Seohyunnya sudah dicuri orang lain. Dalam hati ia berkali-kali merutuki sikap pemalunya, kalau saja dia berani mengatakannya dari dulu. Pasti Seohyun akan bahagia bersamanya dan tak akan merasakan sakit.

“Hyunnie…” suara sedih Ryeowook mengagetkan Seohyun. Matanya menatap Ryeowook yang sedang menunduk dalam-dalam. Dia benar-benar dimakan amarah dan sakit hati sehingga tidak memperhatikan perubahan sikap Ryeowook. Tangannya yang dari tadi mengepal, sekarang malah perlahan-lahan meraih pundak Ryeowook yang mulai bergetar kecil. Sebenarnya siapa yang terluka dan harus menangis? Dia atau Ryeowook?

Op..pa?” panggil Seohyun ragu. Dia tak pernah melihat sisi ini dari Reyowook sebelumnya. Ryeowook yang dia kenal adalah Ryeowook yang berani, tegar. Dan kini yang ada dihadapannya adalah Ryeowook yang rapuh. Seohyun bahkan takut jika ia menyentuhnya Ryeowook akan hancur. Sebelum otaknya dapat memproses apa yang sedang terjadi, ia sudah menemukan dirinya dipelukan Ryeowook. Jantung Seohyun berdetak cepat ketika ia kembali merasakan perasaan hangat yang menjalari tubuhnya. Perasaan yang selalu datang ketika ia bersama Ryeowook. Tangannya bergerak ikut membalas pelukan Ryeowook, kepalanya ia benamkan di lekukan leher pria yang sedang memeluknya ini.

“Joo, kau bukan orang yang jahat. Ini bukan dirimu.” Ryeowook berkata lirih, dan itu membuat Seohyun merasakan sakit yang sangat di bagian dimana jantungnya berada. Air mata yang sebenarnya tadi akan tumpah untuk Kyuhyun, sekarang malah tumpah untuk Ryeowook.  Isakannya bertambah keras setiap Ryeowook mengelus pundaknya lembut. Kenapa dia baru menyadari kalau Ryeowook adalah orang yang berharga di hidupnya? Siapa yang mau menemanimu menangis dan makan ice cream di tengah malam? Siapa yang akan datang setiap kali kau butuh seseorang? Siapa yang mau mengorbankan pulang lembur demi bersamamu? Siapa yang selalu meminjamkan pundaknya padamu? Siapa yang selalu mau menghapus air matamu? Dalam hati ia terus memanggil nama Ryeowook untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Memikirkannya saja sudah membuat Seohyun merasa bersalah dan tambah menumpahkan air mata.

Johahae.. Aku menyukaimu, Seo Joohyun.” Mata Seohyun yang masih basah dengan air mata membuka lebar. Skak mat. Inilah puncak rasa bersalahnya. Bagus, ia bahakan belum meminta maaf pada Ryeowook. Dan pria ini malah menambahkan rasa bersalahnya. Adakah yang lebih parah lagi? “Aku sudah menyukaimu dari dulu. Maaf, aku menyembunyikannya darimu. Maaf.” Air mata Seohyun kembali turun dengan deras. ‘Tuhan, belum cukupkah Engkau memberikan rasa bersalah padaku?’ rutuk Seohyun sambil mengeratkan pelukannya.

“Maaf.” Seohyun berkata lirih. “Maaf..” lagi. Dan lagi sampai suara isakannya menghentikan perkataan maafnya. Dia bisa merasakan gelengan pelan kepala Ryeowook dan elusan halus di punggungnya oleh pria itu, mengisyaratkan bahwa pria itu tak apa, bahwa pria itu tak butuh jawaban Seohyun. Padahal Seohyun tahu hati Ryeowook sakit. Kenapa ia tak bisa melihat Ryeowook yang jelas-jelas mau menerimanya dengan tangan terbuka. Berbeda dengan Kyuhyun yang malah lari dan menutup pintu hatinya. Dia benar-benar sudah dibutakan, dan ia menyesal.

Oppa… Kita akan pergi ke rumah itu.” Ryeowook melepaskan pelukannya hangat nan nyaman dari tubuh Seohyun. Seohyun, entah mengapa, merasa ada yang hilang dari tangannya, dari pelukannya, dari genggamannya, ia merasa seperti kehilangan benda berharganya. Ryeowook kemudian menatap Seohyun dengan mata yang di picingkan, jejak air mata masih terlihat di pipinya. “Kau tak akan melakukan hal yang buruk, kan, Joohyun?” tanya Ryeowook dengan nada khawatir yang ketara jelas. Seohyun melepaskan tawa kecil, dan itu membuat Ryeowook memandangnya aneh dan waspada.

Aigoo, aku tak akan melakukan sesuatu yang jahat. Aku hanya ingin berbicara dengan Kyuhyun oppa. Ng, mungkin untuk menghadap eommonim..” Raut wajah Ryeowook sudah lebih relaks dari yang pertama, namun kewaspadaan masih terlihat sedikit. Seohyun meraih pipi Ryeowook dan mencubitnya –keras. “Aku hanya ingin mengajak Kyuhyun oppa membatalkan pertunanganku dengannya. Jadi, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu terus, oppa!” Seohyun mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tawa kecil, tangannya masih asyik mencubit pipi Ryeowook. Setelah puas, gadis ini melepaskan tangannya dan langsung disambut hembusan nafas lega dari Ryeowook.

Aish, kau ini! Pipiku yang malang…” Seohyun kembali tertawa, kali ini lebih keras. “Baiklah kalau itu maumu.. Minggu ini, kita akan mengunjungi rumah itu dan berbicara dengan Kyuhyun. Aku jemput di apartementmu, oke?” Seohyun mengangguk semangat. Ia kemudian merih tangan Ryeowook dan menggenggamnya erat. Mata Ryeowook berkedip beberapa kali, sebelum mulutnya menanyakan sikap Seohyun kepada dirinya. Seohyun dengan simpel hanya mengangkat bahu sekilas.

“Ah! Ayo makan ddobeokki di stand itu, oppa! Aku dengar stand itu menyajikan ddobeokki terbaik yang pernah ada!” Ryeowook mengangguk. Ia masih bingung dengan kelakuan gadis yang sedang menggenggam tangannya ini. Hhh, sudahlah… ia sedang tidak mood untuk berfikir sesuatu. Apalagi kepalanya masih pusing akibat menangis tadi. Mengingat itu, Ryeowook menggelengkan kepalanya pelan. Hari ini, ia benar-benar menjadi Ryeowook yang emotional.

(lagu bisa dimatikan)

***

Lee Gikwang sedang berjalan berputar-putar di kamarnya. Ingatannya terus mengulang rekaman dimana gadis yang ia ketahui tinggal bersama Sooyoung itu pingsan, uh mungkin untuk lebih spesifiknya lagi, Gikwang sedang mengingat wajah pucat gadis itu. Entah kenapa wajahnya terlihat familiar. Dahinya mengerut ketika pikirannya menyeretnya kembali ke 1 tahun lalu.. Ketika ia masih berada di Jepang, dan ketika ia bertemu dengan seorang gadis manis yang saat itu terlihat bingung mencari suatu alamat. Namanya… Shiroichi Haruka, kan?

7 tahun lalu, Lee Gikwang adalah seorang murid dari salah satu Junior High School ter-beken di Seoul. Belum selesai ia menjadi murid si Junior High School itu, ia ikut orang tuanya pindah ke Jepang. Waktu berlalu dan ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di salah satu Universitas ternama Amerika setelah ia lulus dari High Schoolnya di Jepang, tidak mungkin ia akan melewatkan hal ini bukan? 2 tahun kemudian yang berarti 1 tahun lalu dari tahun sekarang, setelah ia lulus dari Universitas itu, ia kembali ke Jepang. 1 tahun terakhirnya di Jepang, ia habiskan dengan gadis bernama Shiroichi Haruka yang saat itu bertemu dengannya dengan tidak sengaja. 3 Januari 2011, ia masih ingat tanggal dan bulan serta tahun dimana ia bertemu dengan Haruka. Dan sekarang, ia sudah kembali ke Korea dan bekerja di negeri ginseng ini.

Lelah berjalan berputar-putar, Gikwang duduk di kursi pada balkon kamarnya. Angin malam yang dingin sedikit-banyak dapat membantu Gikwang menjernihkan pikirannya dari semua pemikirannya yang memusingkan. Matanya menatap lautan bintang yang terlihat bersinar lebih terang di langit hitam. Salah satu bintang tiba-tiba berkerlip padanya, dan pada saat itu juga Gikwang merasa menemukan jawaban dari pemikirannya.

Gadis yang tinggal bersama Sooyoung.. adalah Shiroichi Haruka?

***

Tak terasa hari Minggu datang lebih cepat dari yang di duga, atau itu hanya perasaan Seohyun saja? Entah kenapa, ia merasa tak sabar untuk datang ke rumah itu, dan mengajak Kyuhyun untuk membatalkan pertunangan mereka. Bukankah ia mencintai Kyuhyun? Lalu kenapa dia merasa seperti ini? Dia tak merasa sedih atau takut. Perasaannya malah membuncah di dalam dada. Harusnya jika kita akan berpisah dengan orang yang kita sukai atau cinta pasti akan 180o berbeda dengan perasaan yang Seohyun rasakan sekarang. Berarti.. dia tak mencintai Kyuhyun lagi?

TIN

TIN

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Seohyun. Mengerti kalau itu adalah Ryeowook yang menjemputnya, Seohyun langsung menyampirkan tas selempangnya di bahu kiri dan berjalan keluar dari apartementnya, lalu menguncinya. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju mobil Ryeowook yang sudah terparkir di depan lingkungan apartement. Menyadari akan sesuatu, Seohyun langsung berhenti melangkah dan berfikir sebentar. Kenapa dia tak merasa berat? Langkahnya pun ringan. Menggeleng pelan, ia kembali berjalan. Kali ini dengan kepala menunduk.

“Kenapa tadi sempat berhenti? Ada yang lupa kau bawa?” tanya Ryeowook sesaat setelah Seohyun sudah memasuki mobil pria itu. Seohyun menggeleng pelan, “Aku tak apa-apa. Tidak ada yang aku lupakan. Sudahlah, ayo jalan, oppa!” empat kata terakhir Seohyun katakan dengan semangat. Ryeowook menyadari keanehan Seohyun, namun hanya diam dan mengemudikan mobilnya menuju rumah itu.

Rumah Sooyoung..

***

Minggu pagi ini, Sooyoung, Naeun dan Kyuhyun memutuskan untuk membersihkan rumah dan merapikannya. Sooyoung yang pada saat itu sedang menyapu lantai ruang tamunya, mengendikkan bahunya sekilas. Gadis ini merasa akan ada sesuatu yang terjadi disini.. Di rumahnya. Memilih untuk tidak memikirkannya, Sooyoung kembali menyapu lantai. Naeun yang baru saja kembali dari gudang terlihat bersin-bersin. Sooyoung tertawa ke arah gadis yang lebih muda darinya itu.

“Sepertinya ada yang sedang memikirkanmu, Naeun-ah!” goda Sooyoung. Naeun hanya tertawa kecil dan mengibas-ngibaskan udara di depan hidungnya. “Tak masuk akal. Ini akibat debu dari gudangmu, Eonnie!” Sooyoung tertawa lepas lalu menjulurkan lidah ke arah Naeun.

“Hei, kau sepertinya memiliki tamu, Youngie!” Sooyoung melebarkan matanya pada panggilan baru Kyuhyun padanya. Tepat pada saat ia mulai terbiasa dengan panggilan ‘Sooyoungie’ dari Kyuhyun, kali ini pria itu kembali mengubahnya. Kalau boleh jujur, ia cukup suka dengan panggilan Kyuhyun.. Uh, namun cara beradaptasinya yang butuh waktu yang cukup lama. Sooyoung menggeleng pelan sebelum berjalan menuju gerbang rumahnya.

Annyeonghaseyo, mencari sia-…!!” kata-kata Sooyoung berhenti ketika ia melihat seorang gadis yang terlihat sama terkejutnya dengan dirinya. Air muka gadis di depannya berubah menjadi bersalah, lalu sedih. Tidak mungkin.. Ini sudah lebih dari satu tahun lamanya. Dia masih berada disini? Sooyoung menengok ke arah belakang gadis itu dan mendapati seorang pria muda, namun terlihat lebih tua dari Kyuhyun.

“Seo..” Pecah sudah tangisan gadis di depannya. Sapu yang tadi masih ada di genggamannya sudah terjatuh entah kemana. Gadis itu –Seohyun- memeluk erat Sooyoung dan menangis di pelukan gadis yang lebih tua darinya itu. “E-eonnie..” lirih Seohyun. Pria yang datang bersama Seohyun mengangkat alisnya sebelah, pertanda ia tak mengerti dengan keadaan Seohyun dan Sooyoung.

Tangan Sooyoung terangkat lalu mengelus pelan rambut panjang Seohyun. Kyuhyun yang dari tadi masih asyik memotong tanaman dan pohon di kebun Sooyoung, akhirnya berjalan ke gerbang ketika ia mendengar suara sesuatu yang jatuh dan tangisan seorang gadis. “Ne, Sooyoung-ah.. Apa yang terjadi?” mata Kyuhyun langsung melebar ketika melihat dua orang yang menjadi tamu Sooyoung. Terlebih lagi, melihat gadis yang berada di pelukan Sooyoung.

“Seohyun..?” kepala Seohyun terangkat dan sebuah senyuman lega menghampiri bibirnya. “Oppa.. lama tidak berjumpa.” Sooyoung yang kali ini terlihat tidak mengerti. Kenapa Seohyun bisa kenal dengan Kyuhyun? Apa jangan-jangan orang yang akan menjadi istri Kyuhyun itu Seohyun? Merasa bahwa masih banyak yang perlu di selesaikan dan di pahami, Sooyoung menyuruh semua orang untuk membicarakannya di dalam rumahnya. Setelah semua orang masuk, Sooyoung masih berdiri di ambang gerbang rumahnya. Gadis 21 tahun ini lalu memijit pelipisnya pelan.

Hh, ini benar-benar memusingkan.

***

(BackGround Music : Girls Day – Don’t Forget Me)

Son Naeun yang disuruh keluar untuk sementara waktu oleh sepupunya terlihat kesal dan bingung. Ia bahkan belum hafal jalanan di kota metropolitan ini. Ia berjalan sambil menendang-nendang batu kecil yang bisa di tangkap matanya. Karena terlalu sibuk memperhatikan para kerikil, Naeun menabrak sebuah benda –mungkin sesorang. Mereka berdua terjatuh dan mengeluh.

Aish, kalau berjalan lihat kedepan!” maki orang itu, Naeun hanya mengangkat wajahnya untuk dapat melihat wajah orang yang sudah menabraknya –atau yang sudah di tabrak? Begitu melihat orang itu, Naeun mengerutkan alisnya. Wajahnya dan suaranya entah kenapa terlihat familiar. Yang lebih aneh lagi, orang itu terlihat mengenalinya.

“Oh? Kau yang waktu itu.” Naeun memiringkan kepalanya tidak mengerti. Jadi, mereka memang pernah bertemu, ya? Pantas wajahnya sedikit familiar. Walaupun begitu, Naeun tak begitu ingat kapan dan dimana mereka bertemu. Kalau orang ini saja ingat, berarti kejadiannya tak terlalu lama berlalu. Tanpa sadar Naeun mulai berfikir keras. Orang itu tertawa kecil. “Jangan dipaksa, nona. Ketika kita bertemu, kau sedang berada dalam keadaan kurang sehat. Jadi, mungkin kau tak mengingatku.” Tuturnya sambil melempar senyum lembut.

Naeun menatap orang dihadapannya dengan tidak percaya. Senyumannya benar-benar mirip dengan senyuman yang biasa ditunjukkan Hiroki. Sebagian dari hati Naeun mencoba untuk percaya, namun sebagian lagi menolak untuk percaya. Mana mungkin dia ada di Korea? Tapi, orang ini buktinya.. wajah, senyum, dan suaranya nyaris sama dengan..

“Hiroki..” gumaman Naeun yang lumayan kecil rupanya dapat membuat orang itu kelabakan dan kaget. Orang itu memang mendengar gumaman kecil Naeun, namun ia tak menyangka efeknya akan sebesar ini pada dirinya.

Kalau dia tahu nama Hiroki.. berarti dia benar-benar.. Shiroichi.. Haru..ka?

***

Gikwang yang mulai pusing dengan semua pemikirannya, memutuskan untuk berjalan-jalan dan menghirup udara segar. Lagipula ini hari Minggu dan dia memang butuh refreshing. Astaga, tumpukan pekerjaan dan seorang gadis dari masa lalunya yang bernama Shiroichi Haruka memang cukup bisa membuat Gikwang hampir jatuh sakit. Pagi-pagi, ia sudah berkeliling Myeong-dong dan berbelanja beberapa makanan disana, namun pikirannya masih dipenuhi beberapa pertanyaan tentang gadis yang ia selamatkan malam itu, dan Haruka.

Mungkin karena pikirannya memang tertuju pada gadis itu, tanpa sadar Gikwang malam mengendarai mobilnya ke arah perumahan dimana rumah Sooyoung berada. Ia baru sadar ketika dirinya melihat gerbang rumah Sooyoung terbuka, menunjukkan sesosok gadis yang sedang menunduk dan menendang kerikil di jalan. Ia hanya mengamati gadis itu, pada awalnya. Namun, akhirnya Gikwang keluar dari mobilnya dan berjalan menuju gadis itu. Dengan sengaja ia menubrukkan badannya dan badan gadis itu, sehingga mereka terjatuh ke tanah.

Aish, kalau berjalan lihat kedepan!” maki Gikwang sambil berusaha mengontrol laju tawanya, ia berharap sang gadis tak menyadarinya. Melihat reaksi dari gadis itu, Gikwang menahan nafasnya. Kenapa alisnya berkerut? Dia mendengar tawaku? Ah, padahal kurasa aku sudah cukup baik dalam menutupinya, pikir Gikwang gelisah. Otaknya kembali dipaksa untuk bekerja mencari alasan, agar gadis ini tidak mencurigainya.

“Oh? Kau yang waktu itu.” Gikwang memaksakan nada datarnya keluar. Oh ayolah, dia tak mau di anggap sebagai seorang stalker atau apalah itu. Gadis itu memiringkan kepalanya, mungkin tidak mengerti. Gikwang hanya tertawa kecil lalu berkata, “Jangan dipaksa, nona. Ketika kita bertemu, kau sedang berada dalam keadaan kurang sehat. Jadi, mungkin kau tak mengingatku.” Ia lalu tersenyum lembut. Entahlah.. dia merasa sangat dekat dengan gadis ini –Naeun. Senyumannya tadi, adalah senyuman yang biasa ia tunjukkan di hadapan Haruka. Hanya gadis itu seorang, karena pada dasarnya Gikwang adalah orang yang kurang suka bersosialisasi. Namun jika kau sudah dekat dengannya, jangan harap kau bisa berhenti tertawa.

Matanya menangkap Naeun yang sedang menatapnya tidak percaya. Ia bisa melihat Naeun akan mengatakan sesuatu, maka dari itu ia menajamkan pendengarannya. “Hiroki..” gumaman Naeun memang bisa dibilang kecil, terima kasih kepada telinganya yang tajam, ia jadi bisa menangkap gumaman gadis itu. Ketika gumaman itu sudah selesai diproses otaknya, Gikwang terlihat kelabakan dan kaget. Dia tahu.. dia tahu nama Hiroki. Gadis ini berada di Korea, namun ia bisa tahu nama yang Gikwang pakai di Jepang sana. Kalau begitu.. gadis ini adalah Haruka? Wajahnya memang persis, dan Haruka tidak pernah mengatakan kalau dia punya kembaran. Jadi.. benarkah?

“Haru-chan?” tahu-tahu ia sudah mendengar dirinya memanggil nama kecil Haruka yang ia pakai ketika bersama gadis itu, bahkan sebelum otaknya selesai memproses apa yang sedang terjadi. Gadis itu melebarkan matanya lalu menunuduk dan menggeleng pelan. “Tidak. Bukan.. itu bukan dia. Mana mungkin dia itu Yamamoto Hiroki, kan?” kali Gikwang yang melebarkan matanya. Gadis ini bahkan tahu nama panjangnya. Cukup sudah, kali ini Gikwang benar-benar yakin kalau gadis yang dia selamatkan malam itu, gadis yang tinggal bersama Sooyoung, gadis dihadapannya ini, dan Shiroichi Haruka adalah orang yang sama. Ya, dia yakin.

Tanpa basa-basi lagi, Gikwang merengkuh tubuh gadis di hadapannya saat ini. Sang gadis tidak berontak, namun tubuhnya membeku. Pasti ia tak menyangka kalau Gikwang akan memeluknya. “Hei, lama tak jumpa.. Shiroichi Haruka.” Ucapan pemuda itu membuat Naeun ikut membalas rengkuhannya. “Mm, lama tak berjumpa. Aku merindukanmu, Hiro-kun.” Perlahan, Naeun mulai mengeluarkan air mata. Gikwang yang kaget langsung melepaskan pelukan merak dan menatap Naeun. Senyumannya kemudian muncul.

“Kenapa menangis, bodoh?” Naeun mengerucutkan mulutnya. Ia lalu menghapus air matanya kasar. Gikwang tertawa ringan, tangannya menepuk-nepuk kepala Naeun. “Aku hanya senang bisa bertemu denganmu lagi, jelek!” bantah Naeun sambil memincingkan matanya ke arah Gikwang yang sekarang malah tertawa keras. Mereka bahkan tidak memikirkan tatapan aneh dari pejalan kaki yang beralu-lalang.

Aigoo, kau masih sama saja seperti yang dulu. Sepertinya masih ada yang harus kita ceritakan satu sama lain. Iya, kan?” Gikwang bertanya sambil menaik-turunkan alisnya. Naeun hanya tertawa lalu mengangguk ceria. “Baiklah.. kau sudah sarapan?” Naeun menggeleng pelan.

Eonnie sedang ada tamu. Dan mereka ingin membicarakan masalahnya tanpa aku disana.” Ucap Naeun, Gikwang hanya mengangguk-angguk mengerti. Kemudian, senyum cerah kembali menghiasi bibirnya, “Ne, aku tahu tempat yang menyediakan sarapan terbaik. Kita kesana lalu berbicara, oke?” Naeun mengangguk cepat. Gikwang tersenyum lalu meraih tangan Naeun dan mengiringnya ke dalam mobil.

(Lagu bisa dimatikan disini)

***

Suasana di ruang tamu milik Sooyoung benar-benar terasa canggung dan mencekam. Sudah dari 10 menit setelah Naeun keluar dari rumahnya, namun tak ada yang mau membuka suaranya terlebih dahulu. Semuanya bungkam, mungkin masih sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Sooyoung sudah mengira akan seperti ini terus untuk 5 menit kedepan, namun nyatanya Kyuhyun malah membuka percakapan duluan.

“Aku mulai menagkap sesuatu disini. Jadi, Seohyun adalah orang yang pernah tinggal bersamamu itu, kan? Sooyoung-ah?” Sooyoung yang duduk di samping Kyuhyun hanya memasang mimik terkejut. Jadi, selama ini Kyuhyun hanya memikirkan itu? Lalu kenapa harus dirinya yang dilempari pertanyaan duluan? Ia hanya menggeleng pelan, dan menarik nafas panjang.

“Ya.. itu Seohyun. Lalu.. gadis yang akan di nikahkan denganmu itu Seohyun juga, Kyuhyun-ssi?” Kyuhyun hanya mengangkat bahu, Sooyoung memasang wajah kesalnya. Pria ini! Tak tahukah ia, atmosfir disini itu sedang tegang?! Kenapa malah dengan simpelnya mengangkat bahu seperti itu? Urgh! Sooyoung merasa ingin menjambak rambut Kyuhyun sekarang juga.

Hyung, kau kenapa bisa bersama Seohyun?” Sooyoung mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun menuju pria yang duduk disamping Seohyun dan di depan Kyuhyun itu. Firasatnya benar, ia memang lebih tua dari Kyuhyun. Pria itu hanya tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana. “Yaah, hanya ingin mengantarnya kesini. Ada yang mau dia bicarakan denganmu.” Tangannya menunjuk Seohyun. Seohyun tersenyum.

“Seohyun-ah.. bisa kau jelaskan, kenapa kau malah bisa menjadi calon isteri setan ini?” Sooyoung mencoba menaikkan atmoosfir negatif yang masih mengelilinginya dengan lelucon yang ia selipkan di akhir kalimat tadi. Dan usahanya berhasil, Seohyun dan pria itu tertawa kecil, sedangkan Kyuhyun mulai mebantahnya. Sayang, tiga orang yang lain tak mendengarkan ocehan Kyuhyun.

“Begini.. aku dulu pergi dari rumahmu karena.. aku tak kuat lagi dengan pandangan para tetangga. Tak tahukah kau, Eonnie? Mereka menganggap aku orang yang hanya menyusahkan hidupmu. Dan karena aku tak mau kau sampai berfikrian seperti itu juga, aku bergegas pergi dari rumahmu. Pada saat aku melintasi suatu toko, aku bertemu dengan eommonim –ibu Kyuhyun oppa-. Beliau lalu membiarkan aku tinggal di rumahnya –namun sekarang aku tinggal di sebuah apartement. Beliau lalu mulai memintaku untuk mendekati Kyuhyun oppa, karena pada usia saat ini ia tak pernah memperkenalkan seorang gadis pada beliau. Aku memang sudah tertarik dengan Kyuhyun oppa. Dan.. yaah, aku lalu dijodohkan. Namun Kyuhyun oppa tak setuju dan memilih untuk keluar dari rumah.” Seohyun mengakhiri ceritanya lalu mengambil secangkir teh yang tersaji de depannya. Tenggorokannya benar-benar terasa kering setelah menceritakan semuanya. Namun ia senang sudah bisa terbuka pada semuanya, beban berat seakan sudah diangkat dari bahunya.

Sooyoung meresponnya dengan senyuman lembut, “Aku senang kau baik-baik saja selama ini, Seo. Tapi, kurasa keputusanmu untuk keluar dari rumah itu salah. Kita bisa membicarakannya bersama, kan?” Seohyun mengangguk setuju. “Maaf, eonnie. Aku benar-benar tak bisa berfikir pada saat itu.” Sooyoung menggeleng pelan.

“Aku juga minta maaf, aku harusnya lebih memperhatikan posisimu. Jadi.. kita berbaikan, bukan?” Sooyoung bangkit dari kursinya dan mengulurkan tangannya, Seohyun hanya menatap tangan Sooyoung lalu ia langsung memeluk gadis yang lebih tua darinya itu. “Mm, kita baikan.” Lirihnya, mencoba menahan laju air mata yang ingin keluar. Sooyoung mengelus pelan punggun Seohyun. Kedua pria yang menonton hanya tersenyum lembut. Mereka juga senang semuanya sudah baik-baik saja.

“Oh! Kata Ryeowook hyung, ada yang ingin kau bicarakan denganku?” Seohyun melepas pelukannya lalu mengapus air mata yang tibul dari sudut matanya. Gadis ini lalu mengangguk, “Aku ingin kita membatalkan pertunangan dan pernikahan kita, oppa.”

Mulut Kyuhyun dan Sooyoung sukses jatuh ketanah.

.

.

To Be Continued

.

A/N: Jaadi, gimana meurut kalian? Kependekankah? Membosankankah? Feel free to leave a comment, i’ll apreciate it. Sampai ketemu lagi di part 7nya, knightdeul! ❤

Advertisements

14 thoughts on “With Him: Part 6

  1. Jelas sudah semuanya apa alasan mereka masing masing . Untuk ryewook aku acungin jempol bener bener tulus sama seo . Chingu itu yg terakhir ga salah tuh mulut kyu sama soo jatuh ke tanah?hehe
    I’ll be waiting for next 🙂

  2. ILOVEKyuSoOFOREVER says:

    Kurasa ni ff bner2 terkeren lah,,,
    seo mengalah masalah sdkt terselesaikn.
    aku ska banget crta + bhsany. cuma stiap ak mw koment psti sllu ga2l lol T_T
    mw bc next part

  3. Author,aku comment buat part 1 sampe part 6..hehe
    bagus,kata2nya bikin ketawa,suka bnget sma moment yg mereka jatuh bersama..wah,kelanjutan’a gmna nih?blm bca part 7 sma part 8..tunggu coment aku ya thor*loh?reader disconnect

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s